Kosong, Warung di Sendangasri Dibongkar Tanpa Perlawanan

Rabu, 25 Februari 2015 | 14:57 WIB
Sebanyak 26 warung remang-remang yang masih berdiri di sepanjang tepi Jalan Pantura wilayah Desa Sendangasri Kecamatan Lasem akhirnya dibongkar paksa tanpa perlawanan, Rabu (25/2/2015) pagi. (Foto:Pujianto)

Sebanyak 26 warung remang-remang yang masih berdiri di sepanjang tepi Jalan Pantura wilayah Desa Sendangasri Kecamatan Lasem akhirnya dibongkar paksa tanpa perlawanan, Rabu (25/2/2015) pagi. (Foto:Pujianto)

 
LASEM, mataairradio.com – Sebanyak 26 warung remang-remang yang masih berdiri di sepanjang tepi Jalan Pantura wilayah Desa Sendangasri Kecamatan Lasem akhirnya dibongkar paksa tanpa perlawanan, Rabu (25/2/2015) pagi sekitar pukul 09.30 WIB.

Pembongkaran paksa dilakukan karena waktu yang diberikan kepada pemilik warung untuk membongkar sukarela sudah habis Rabu (25/2/2015) ini.

Saat pembongkaran dilakukan, kondisi warung sudah dalam keadaan kosong. Pembongkaran itu pun dilakukan hanya pada bagian atapnya.

Menurut Kepala Desa Sendangasri Amin, pembongkaran bangunan secara sepenuhnya masih harus menunggu surat dari Plt Bupati.

“Sebab, pembongkaran total akan dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Penghuni warung sudah mulai beringsut sejak dua hari terakhir,” katanya.

Penertiban paksa warung yang kerap dipakai sebagai ajang prostitusi terselubung ini dilakukan secara bersama oleh pemerintah desa dan hansip setempat.

Puluhan aparat Satpol PP, polisi dari Satuan Sabhara Polres Rembang, serta dari Polsek dan Koramil Lasem, tampak melakukan pengawalan.

Kapolsek Lasem Iptu Muhammad Syuhada juga mengatakan, penghuni warung remang-remang itu sudah mulai pindah pada dua hari sebelumnya.

“Mereka ada yang pulang kampung, namun ada pula yang diindikasikan bergeser ke tempat lain,” katanya.

Soal sebagian penghuni yang dikabarkan sudah berpindah ke Dorokandang dekat Terminal Lasem, Syuhada mengaku tidak tahu.

“Sebab pergerakan orang per orang, tak terpantau secara pasti. Apalagi penghuni warung ini hampir semuanya warga luar daerah seperti Blora, Jepara, dan Bojonegoro,” tandasnya.

Kepala Seksi Penertiban Satpol PP Rembang Risangsongko mengatakan, meski pembongkaran dilakukan hanya pada bagian atap warung, namun itu sudah termasuk bentuk penutupan kawasan Sendangasri dari praktek prostitusi.

“Pembongkaran total seluruh bangunan, diharapkan agar dilakukan sendiri oleh pemilik warung,” ujarnya.

Dia menegaskan, mereka tidak boleh lagi beroperasi. Jika nekat, pembongkaran paksa akan langsung dilakukan lagi.

Sarman, salah satu warga Sendangasri mendukung penertiban warung tersebut. Meski akibat penertiban, usaha lasnya menjadi sepi, dia senang desanya kini terbebas dari kesan buruk.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan