Kontribusi PDAM Untuk Pemkab dan Masyarakat Dipertanyakan

Kamis, 28 November 2019 | 18:28 WIB

Anjar Krisniawan anggota Pansus II pada Raperda PDAM Rembang. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Rembang dianggap belum berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Rembang. Pasalnya selama beberapa tahun terakhir PDAM tidak pernah setor deviden atau pembagian keuntungan kepada pemegang saham dalam hal ini Pemkab Rembang.

Anjar Krisniawan anggota Pansus II pada Raperda PDAM menyatakan setelah rapat bersama dengan pihak PDAM memang ada keuntungan pada kurun waktu 2019 ini namun digunakan untuk menutup kerugian pada periode Dirut yang lama.

Sehingga sampai akhir 2019 PDAM memang belum pernah menyetor deviden sama sekali. Dan itu dikuatkan dengan adanya Peraturan Bupati (Perbup) yang menyatakan keuntungan PDAM bisa digunakan untuk menutup kerugian diperiode lalu.

Anjar menilai kondisi tersebut karena PDAM tidak mempunyai rencana bisnis (bisnis plan) yang inovatif. Dirinya menyontohkan PDAM Jogja dengan penyertaan modal sekitar Rp3 miliar bisa menghasilkan keuntungan sekitar satu miliar per tahun dengan membuat inovasi air kemasan. Padahal jumlah cadangan air bersih dan juga pelanggan di Rembang lebih besar, harusnya PDAM Rembang bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

“Memang kendala yang terjadi pada kemarau akhir-akhir ini adalah pencurian air di saluran pipa PDAM, menurut laporan yang kami terima kebocoran sekitar 20 persen,” ungkapnya.

Namun demikian, tahun 2020 PDAM masih diberikan penyertaan modal sekitar Rp6 miliar untuk pengadaan pipa dan pengolahan air di waduk Panohan. Pihak DPRD akan memonitor kinerja PDAM dengan penyertaan modal tersebut. Selain itu pelayanan buruk yang sering dikeluhkan oleh masyarakat akan menjadi sorotan.

Disinggung aktifitas penjualan air bersih oleh PDAM selama musim kemarau ini, Anjar mengaku masih mengkonfirmasinya. Apakah ada aturannya atau belum. Pasalnya, hal tersebut menjadi pertanyaan masyarakat yang dari awal menjadi pelanggan PDAM yang dalam prakteknya pasokan air diatur dengan cara bergilir antara lima sampai delapan hari.

“Kalau bisa langsung beli kan juga kasihan yang dari awal menyalur ke PDAM, apalagi infonya jatah pasokan air di beberapa daerah selalu digilir,” pungkasnya.

Sementara itu Dirut PDAM Muhamad Affan, ada sekitar 800 pelanggan PDAM yang mendapatkan pasokan air secara bergilir. Mulai daerah Dusun Gedangan Kelurahan Leteh sampai dengan Genengrejo dan Sumbermukti. Mereka terpaksa mendapatkan pasokan air rata-rata 8 hari sekali karena dampak penggiliran.

Dia juga menjelaskan ada beberapa sebab minimnya pasokan air kepada pelanggan. Mulai dari beberapa kebocoran pada sumber air produksi di Kecamatan Bulu, hingga tidak beroperasinya produksi sumber air baku dari Embung Jatimudo dan Embung Grawan.

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan