Tak Gubris Klarifikasi, Tiga Warga Laporkan Supadi ke BK

Rabu, 3 Desember 2014 | 14:27 WIB

 

Amari, warga Banoan Sarang yang tergabung dalam Formappel menunjukkan ijazah milik anggota DPRD Rembang, H. Supadi yang diduga palsu, Selasa (03/12/2014). (Foto:Pujianto)

Amari, warga Banoan Sarang yang tergabung dalam Formappel menunjukkan ijazah milik anggota DPRD Rembang, H. Supadi yang diduga palsu, Selasa (03/12/2014). (Foto:Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tiga orang warga dari Kecamatan Sarang yang mengatasnamakan bagian dari Forum Masyarakat Peduli Pemilu Legislatif (Formappel), Rabu (3/12/2014), akhirnya melaporkan Supadi lantaran dugaan ijazah palsu kepada Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Rembang.

Mereka tak menggubris klarifikasi yang sempat disampaikan oleh mantan Kepala Madrasah Diniyah Nahjatus Sholihin Desa Plawangan Kecamatan Kragan Mohamad Faqih, yang menyebut Supadi merupakan siswanya dan ijazah diniyah yang diklaim setara MTs milik yang bersangkutan, benar-benar asli.

Mashuri Mashur, salah satu warga Desa Sendangmulyo Kecamatan Sarang yang merupakan bagian dari Formappel, tidak yakin dengan keaslian ijazah yang diterbitkan oleh Madrasah Diniyah Nahjatus Sholihin pada tahun 1989 itu.

“Bagaimana bisa disebut asli, sementara pada tahun 1988, Supadi saya berangkatkan bekerja ke Mekkah. Dia mukim di Mekkah bekerja sebagai buruh jahit serta (baru) pulang (setelah tahun 1990) dan tak lama kemudian Pilkades Banowan tahun 1998,” ungkap Mashuri seusai bertemu dengan pihak BK.

Dia mempertanyakan, mungkinkah ada dua orang Supadi, sementara Supadi yang diberangkatkannya ke Mekkah untuk bekerja, adalah yang saat sekarang menjabat sebagai salah satu Aggota DPRD Rembang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Selain ijazah dari Nahjatus Sholihin yang kami duga palsu, dugaan serupa pun berlaku terhadap Supadi, atas ijazah dari salah satu SMP di Tangerang. Kami sudah kroscek ke Tangerang. Dan pihak sekolah di sana menyatakan dengan surat resmi, tidak pernah memiliki murid atas nama Supadi,” tegasnya.

Pihaknya yang datang ke Badan Kehormatan DPRD Rembang bersama Kasrup, salah satu kerabat Supadi di Banowan, dan Amari, mantan Kades Banowan meminta agar BK serius menindaklanjuti persoalan ini karena berkaitan dengan kepantasan dan kelayakan menjadi seorang wakil rakyat.

“Dengan menggunakan ijazah palsu, maka berarti cacat hukum. Ya mestinya berhenti (dari kursi wakil rakyat). Sebab, yang dilakukan itu telah berbohong dan merupakan bentuk pemalsuan dokumen negara,” imbuhnya.

Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Rembang Gatot Paeran mengatakan, pihaknya mengakomodir laporan secara lisan dan tertulis dari ketiga warga ini serta segera menindaklanjutinya dengan menggelar rapat internal di BK.

“Rapat nanti akan mengkaji permasalahan yang dilaporkan secara lisan dan tertulis yang disampaikan warga kepada BK. Setelah rapat itu, kita akan panggil Pak Supadi. Kami perlu menindaklanjuti laporan masyarakat,” ujarnya.

Selain memanggil Supadi, pihak Badan Kehormatan juga akan menindaklanjuti laporan tersebut hingga level madrasah atau sekolah yang bersangkutan atau jika perlu termasuk melakukan klarifikasi ke Kantor Kementerian Agama Rembang.

“Kita belum bisa memberikan komentar lain, sebelum kami lakukan klarifikasi secara utuh atas laporan warga ini. Kita tidak bisa janjikan waktunya kapan, yang jelas segera,” tandasnya.

Pada kesempatan terpisah, Supadi menilai, laporan yang disampaikan kepada pihak Kepolisian Resor Rembang maupun Badan Kehormatan DPRD berasal dari sejumlah orang yang sakit hati, iri, dan dengki dengannya.

“Mbah Mashuri yang melaporkan saya itu pernah mencalonkan anaknya yang di Banowan untuk menjadi Kades. Saat itu, saya juga mencalonkan istri saya. Anaknya nggak jadi (kades), istri saya yang jadi, sehingga mencari-cari kesalahan,” katanya.

Mengenai ijazah SMP di Tangerang yang juga dilaporkan kubu Formappel ke pihak polisi, Supadi mengaku tak pernah memiliki ijazah SMP di Tangerang. Ia malah balik menuding pihak Formappel mengada-ada ijazah tersebut.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan