Kios Tambal Ban di Tepi Pantura Kaliori Ludes Terbakar

Rabu, 19 Februari 2014 | 14:01 WIB
Kios tambal ban sekaligus bekas warung makan di bilangan tepi Jalan Pantura wilayah Dukuh Borak Desa Bogoharjo Kaliori ludes terbakar pada Selasa (18/2) petang. (Foto:Puji)

Kios tambal ban sekaligus bekas warung makan di bilangan tepi Jalan Pantura wilayah Dukuh Borak Desa Bogoharjo Kaliori ludes terbakar pada Selasa (18/2) petang. (Foto:Puji)

KALIORI, MataAirRadio.net – Kios tambal ban sekaligus bekas warung makan di bilangan tepi Jalan Pantura wilayah Dukuh Borak Desa Bogoharjo Kaliori ludes terbakar pada Selasa (18/2) petang kemarin. Kios dan bekas warung makan itu milik Karnadi (35), warga Desa Babadan Kecamatan Kaliori.

Saat kejadian, kios yang lebih banyak digunakan untuk tempat tambal ban truk itu, sedang tutup. Yanto, seorang tukang parkir di lokasi itu mengatakan, kebakaran pertama kali diketahui oleh pengemudi mobil pribadi dari arah Semarang.

Sopir itu mengabarkan ada kobaran api di kios tambal ban yang tutup. Namun tidak berselang lama, api sudah berkobar. Warga sekitar yang datang sudah berupaya melakukan pemadaman dengan mengambil air tambak. Hanya saja, upaya itu tidak mampu menjinakkan api.

Warga sekitar menduga, korsleting listrik menjadi pemicu kebakaran. Dugaan itu didasarkan pada penggunaan kabel berserabut kecil oleh pemilik warung. Kerugian materi akibat kebakaran mencapai Rp20 juta. Rabu (19/2) pagi, masih ada sisa api di sela ban-ban yang terbakar.

Komandan Regu Pemadam Kebakaran dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rembang Abdul Rokhim mengatakan, kebakaran rawan pada musim hujan sekalipun. Biasanya, korsleting listrik menjadi pemicunya.

Menurut Rokhim, kabel yang tidak standar rawan mengakibatkan hubungan pendek arus listrik. Dalam hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan PLN Rayon Rembang, untuk turut mengimbau penggunaan kabel standar pada instalasi rumah tangga.

Sementara terkait kesiapsiagaan kebakaran, Rokhim pun memandang perlu adanya sosialisasi hingga lapisan paling bawah. Namun dia belum melakukannya dengan dalih tidak ada dukungan anggaran. Meski demikian, edaran kewaspadaan tetap akan disampaikan lewat kecamatan.

Pihak PLN Rayon Rembang mengonfirmasi, instalasi rumah tangga hendaknya menggunakan kabel berlabel Standar Nasional Indonesia atau SNI, meski harganya lebih mahal ketimbang kabel serupa lainnya. Soalnya, penggunaan alat listrik yang memenuhi standar adalah salah satu syarat keamanan.

Selain label SNI, masyarakat harus menyesuaikan kabel dengan kebutuhan listrik sehingga memenuhi kriteria tertib listrik. Dengan begitu, PLN yakin insiden kebakaran yang disebabkan arus pendek bisa dicegah. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan