Ketika Santri Menggelar Pameran Lukisan

Selasa, 24 April 2018 | 20:50 WIB

Para santri di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang menggelar pameran lukisan, Selasa (24/4/2018) di Gedung Aula Lantai II pondok pesantren setempat. (Foto: Siroju Munir)

REMBANG, mataairradio.com – Para santri di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang menggelar pameran lukisan.

50-an lukisan dipajang. Asli karya santri. Baik putra maupun putri. Rata-rata, yang dilukis adalah tokoh idola mereka, terutama para pengasuh pesantren dari generasi ke generasi.

Seperti almarhum Kiai Bisri Mustofa, almarhum Kiai Cholil Bisri, dan pengasuh pesantren saat ini di antaranya Kiai Ahmad Mustofa Bisri, Kiai Syarofuddin, Kiai Bisri Adib Chattani.

Ada juga potret pendiri Nahlatul Ulama Kiai Hasyim Asy’ari, mendiang Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Raden Ayu Kartini.

Lukisan-lukisan itu, sebagian dipajang dengan background koran bekas. Mereka mengusung tema “Potret Generasi”.

Luqman Abdul Hakim, ketua panitia pameran mengatakan, pihaknya ingin mengingatkan pentingnya generasi masa kini belajar pada generasi terdahulu, melalui pameran lukisan ini.

“Gelar karya ini juga untuk wadah kreativitas bagi para santri,” terangnya.

Julian Ahmad Fauzani, salah seorang kontributor mengaku senang bisa ikut meramaikan gelar karya ini. Apalagi ia hobi melukis.

Ia menyatakan mengirim beberapa lukisan abstrak karena tertarik oleh tema yang diusung panitia.

“Semoga gelar karya semacam ini, digelar lagi di tahun-tahun mendatang,” harapnya.

Gelar karya santri berlangsung selama tiga hari hingga Kamis 25 April ini, sekaligus mengisi akhir tahun pelajaran di madrasah pesantren.

Pengunjung yang datang kebanyakan santri setempat dan beberapa santri luar.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan