Ketika Kesenian Emprak Kian Terpinggirkan

Minggu, 21 Juni 2015 | 18:42 WIB
    Lainnya  1 dari 3.411   Sutrisno, ketua kelompok kesenian emprak di Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori menunjukkan keping cakram digital dokumentasi pentas emprak. (Foto: Pujianto)

Sutrisno, ketua kelompok kesenian emprak di Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori menunjukkan keping cakram digital dokumentasi pentas emprak. (Foto: Pujianto)

 
KALIORI, mataairradio.com – Kesenian warisan syiar agama Islam era 1742 masehi di Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori, kini kian terpinggirkan. Emprak, demikian nama kesenian itu, mulai jarang ditampilkan, kecuali dipesan untuk acara hajatan.

Sutrisno, salah seorang tokoh sekaligus generasi kesembilan Emprak Kuangsan mengaku jarang mendapati perhatian Pemerintah dalam beberapa tahun ini yang tidak sebagaimana era 1995. Emprak yang sering dilombakan hingga tingkat Nasional dan dipentaskan rutin di Taman Kartini, kini tidak lagi.

Padahal emprak yang konon berasal dari ungkapan Jawa “nglempak ning emper blarak”, idenya disebut berasal dari salah seorang santri Kanjeng Sunan Bonang yang bernama Sayyid Abdul Rohmat. Seorang penyebar agama Islam di daerah Jankungan-Banjarsari, yang kini diyakini sebagai Banyudono, Kaliori.

“Dulu kami sering dilombakan. Sering ada perhatian. Tetapi sudah dua tahun ini kok tidak ada lagi. Padahal ini kesenian tradisi Islam yang termasuk tua,” kata dia.

Agar tidak hilang digerus zaman karena kian terpinggirkan, kesenian emprak kini mulai berkreasi. Emprak sudah dimodifikasi sehingga berbentuk seperti ketoprak. Jumlah personel yang dulunya hanya 20 orang sebagaimana jumlah aksara Jawa, kini sudah mencapai 60 orang.

Secara lakon pementasan pun, tidak lagi hanya Kijo Tani dan Bajul Buntung, yang mengisahkan perjuangan sepasang suami-istri dalam membesarkan kedua anak menjadi seorang alim ulama dan perempuan yang salihah. Tetapi sudah mengangkat cerita rakyat seperti kisah Panji Sering.

Hanya saja, iringan shalawat yang mengiringi awal dan akhir pementasan emprak, tetap dipertahankan, sebagai warna Islam Nusantara. Sutrisno berharap kepada Pemerintah agar membantu memajukan kesenian emprak. Bagaimana bentuknya, dia mengaku pasrah. Asalkan emprak tidak hilang begitu saja.

“Kami berharap Pemerintah ikut membantu memajukan emprak. Dengan apa, kami pasrah. Ini agar emprak terus bisa bertahan,” katanya penuh harap.

Kesenian emprak belakangan ini lebih banyak diorder untuk memenuhi ujar nazar, seperti ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan, jodoh yang dimudahkan, atau sakit yang disembuhkan Tuhan.

Sutrisno menambahkan, secara regenerasi, bibit pelakon emprak terutama dari kalangan kaum hawa, terbilang makin langka. Baru, ketika mereka sudah berkeluarga, emprak menjadi pilihan sumber kebutuhan ekonomi.

Sementara itu hingga Minggu (21/6/2015) siang, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Rembang Sunarto belum membalas pesan singkat permintaan konfirmasi mataairradio tentang rencana bentuk perhatian terhadap emprak.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan