Keluarga Tersangka Kasus Musala Fiktif Ditakut-takuti Oknum

Rabu, 6 Mei 2015 | 16:53 WIB
Nuruddin (paling kanan), kakak dari Ali Maksum (paling kiri), bersama istri M Solikul Anwar (saling bersebelahan) saat memberikan keterangan seputar dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum anggota LSM, Rabu (6/5/2015) siang. (Foto: Pujianto)

Nuruddin (paling kanan), kakak dari Ali Maksum (paling kiri), bersama istri M Solikul Anwar (saling bersebelahan) saat memberikan keterangan seputar dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum anggota LSM, Rabu (6/5/2015) siang. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Keluarga tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah musala fiktif di Desa Bogorejo Kecamatan Sedan mengaku ditakut-takuti oleh oknum yang mengaku sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tujuannya agar tidak menyeret anggota DPRD Nur Hasan dalam kasus itu.

Intinya keluarga diminta agar tersangka mau mengubah keterangannya kepada penyidik Kejaksaan Negeri Rembang. Sebelumnya, tiga tersangka masing-masing M Solikul Anwar, Ali Maksum, dan Salimun mengungkap keterlibatan Nur Hasan dalam perkara dugaan korupsi senilai Rp40 juta.

Istri Solikul Anwar yang meminta tidak disebut namanya mengaku sempat didatangi oleh dua orang yang menanyakan keberadaan suaminya, dengan nada tinggi pada hari Sabtu 2 Mei kemarin.

“Waktu itu, lantaran takut, saya mengontak orang tua yang tinggal terpisah agar datang menemani,” tuturnya.

Di ujung pertemuan, keluarga diminta agar tersangka tidak membawa-bawa nama Nur Hasan, jika tidak ingin Anwar dilaporkan karena kasus lain terkait bantuan sapi.

“(Atas ancaman itu), keluarga tetap kukuh, tidak meminta Mas Anwar mengubah kesaksian terkait kasus (dugaan korupsi dana hibah 2013) ini,” tegasnya.

Nuruddin, kakak kandung Ali Maksum juga mengaku didatangi oleh dua orang yang mengaku anggota LSM. Awalnya, kedua orang itu datang dengan nada tinggi dan menanyakan nasib bantuan sapi senilai Rp50 juta yang konon kelompok penerimanya diketuai oleh Ali Maksum.

“Saya tidak tahu menahu soal bantuan itu, jadi tidak bisa memberi penjelasan banyak. Namun, kedua orang itu masih terus tanya. Ali berangkat bekerja pada pagi dan baru pulang malam hari, sehingga saya tidak tahu soal bantuan sapi itu,” tandasnya.

Hingga akhirnya, tensi pembicaraan menurun dan muncul permintaan dari dua orang itu agar para tersangka tidak memojokkan Nur Hasan dalam kasus dugaan korupsi dana hibah musala fiktif.

“Dalam hal ini, keluarga tetap meminta agar Ali Maksum memberikan keterangan secara sebenar-benarnya,” tegasnya.

Apalagi Uddin yakin, adiknya yang masih muda itu akan sulit membuat hingga mencairkan dana atas proposal itu, kalau tidak ada tokoh di belakangnya.

“Dengan memberikan keterangan secara jujur, paling tidak jika pun nanti Ali tetap dinyatakan bersalah, akan bisa meringankan hukuman,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Rembang Eko Yuristianto mengaku sudah mendapatkan kabar mengenai upaya dari pihak tertentu untuk memengaruhi keluarga para tersangka agar tidak mengait-ngaitkan Nur Hasan dalam kasus dugaan korupsi dana hibah fiktif.

“Upaya tersebut tidak akan sampai menghentikan proses penyidikan terhadap tersangka (Nur Hasan, red.). Kami meminta keluarga para tersangka agar segera melapor kepada pihak yang berwajib, jika ancaman yang diterima dirasa semakin serius,” ujarnya.

Nur Hasan dalam sebuah wawancara dengan media membantah keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi dana hibah fiktif untuk Musala Ar-Rahmah di desanya sendiri. Hasan mengaku selalu menyerahkan urusan terkait penjaringan aspirasi hingga penyusunan proposal dan pencairan dana bantuan kepada M Solikul Anwar yang merupakan stafnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan