Trauma Kelangkaan, Petani Tebus Pupuk Lebih Awal

Monday, 10 November 2014 | 13:58 WIB
ILustrasi pupuk bersubsidi. (Foto:bumn.go.id)

ILustrasi pupuk bersubsidi. (Foto:bumn.go.id)

 

KALIORI, mataairradio.com – Sejumlah kelompok tani di wilayah Kecamatan Kaliori dan Sumber mulai melakukan penebusan pupuk lebih awal, sebelum musim tanam 2014 berlangsung. Petani trauma akan terjadi kelangkaan seperti tahun lalu.

Penebusan pupuk dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pada awal masa tanam nanti, sehingga belum terhadap seluruh jatah seperti yang diajukan dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

Kelompok Tani “Tani Rahayu” Dusun Mulo dan Nganguk Desa Gunungsari misalnya. Pihak pengurus kelompok tani, kini sudah menebus hingga 11 ton pupuk jenis urea. Jumlah ini disebut baru separuh dari total kebutuhan sekitar 200 orang petani di kelompok tersebut.

“Kami trauma kelangkaan. Kami nggak mau baru ramai-ramai menebus pupuk ketika butuh. Ini polanya kita ubah. Kami tebus sekarang, menjelang masa tanam,” ujar Ketua Kelompok Tani “Tani Rahayu”, Sumijan, Senin (10/11/2014) pagi.

Dia menjelaskan, uang untuk penebusan pupuk berasal dari petani yang terdaftar dalam RDKK dan ditalangi dengan sebagian dana PUAP atau Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).

“Petani ya mulai sadar. Kelangkaan yang dulu terjadi, turut dipicu oleh penebusan yang dilakukan serempak ketika membutuhkan. Jadi setelah kelompok menebus, petani datang untuk membayar dan mengambil jatah pupuknya,” jelasnya.

Nursahid, petani di Dusun Kedungwatu Desa Kedungasem Kecamatan Sumber juga mengatakan telah mulai melakukan penebusan pupuk. Dia mengaku takut akan terulangnya kelangkaan pupuk pada musim tanam tahun lalu.

“Rata-rata petani memang sudah melakukan penebusan. Sudah mulai ‘nyetok’ 1-5 kuintal ini di rumah. Alasannya ya karena memang khawatir bakal terjadi penebusan seperti tahun lalu,” kata dia yang mengaku anggota Kelompok Tani “Angudi Luhuring Tani II” Kedungasem.

Menurutnya, penebusan pupuk di masa ini dianggap tidak masalah karena saat sekarang, petani sudah mulai melakukan pengolahan lahan, seiring dengan turunnya hujan dalam dua hari terakhir.

“Ditebus sekarang ya nggak masalah. Disimpan dulu kan (pupuknya). Ini juga petani mulai mengolah lahan. Daripada nanti pas butuh baru menebus, ini kan mumpung longgar, jadi segera beli pupuk,” tandasnya.

Secara terpisah, menurut Kepala Seksi Usaha Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Ika Himawan Affandi, penebusan pupuk dari kelompok tani memang mulai tampak, namun belum signifikan.

“Sudah hampir semua kelompok tani mulai melakukan penebusan, namun belum signifikan. Kita sudah sosialisasikan kepada petani agar menebus jelang musim tanam,” katanya.

Ika juga mengatakan, jika tidak segera ditebus, maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bisa mengambil kesan bahwa alokasi pupuk untuk Rembang tidak dimanfaatkan. Dampak buruknya, alokasi pupuk untuk Rembang bisa dialokasi ke luar daerah.

“Kalau nggak segera ditebus, khawatir Rembang dikira nggak butuh. Tahun lalu kan ada jatah kita yang ditarik provinsi. Tahun lalu ditarik 2.000 ton ke daerah lain. Lagi pula pengecer sekarang wajib menghimpun stok aman untuk dua minggu, jadi bisa melayani permintaan tebusan dari petani,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan