Kekayaan Laut Menipis, Kesadaran Nelayan Resolusi Konflik

Friday, 30 October 2015 | 18:04 WIB
Seminar bertajuk "Resolusi Konflik Pengelolaan Sumber Daya Kelautan: Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan Kemandirian Ekonomi" di Flamboyan Meeting Room Hotel Fave Rembang, Jumat (30/10/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Seminar bertajuk “Resolusi Konflik Pengelolaan Sumber Daya Kelautan: Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat dan Kemandirian Ekonomi” di Flamboyan Meeting Room Hotel Fave Rembang, Jumat (30/10/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Stok kekayaan laut Indonesia disebut menipis akibat aktivitas ilegal penangkapan ikan serta eksploitasi sumber daya kelautan secara berlebihan. Parameternya antara lain menyusutnya ukuran ikan yang ditangkap oleh nelayan, akhir-akhir ini.

Menurut peneliti Insitut Pengembangan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Inpedham) Yogyakarta Saifudin Zuhri, menipisnya stok kekayaan di lautan Indonesia, akan melahirkan kelangkaan komoditas. Terlebih permintaan konsumsi perikanan secara dunia semakin tinggi.

Di seminar resolusi konflik pengelolaan sumber daya kelautan yang digelar BEM STIE YPPI Rembang Jumat (30/10/2015) pagi, Saifudin menilai konflik yang muncul akibat ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan konsumsi ikan, perlu diatasi melalui penyadaran nelayan secara intens.

“Nelayan harus menyadari bahwa deposit sumber daya kelautan kita menipis dan mulai langka. Dan ini akan mengancam kebutuhan dasar kita. Ini juga menyangkut generasi hidup berikutnya. Nelayan mesti terlibat untuk penyadaran-penyadaran semacam ini,” katanya.

Di tempat yang sama di Flamboyan Meeting Room Hotel Fave Rembang, Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Nurida Andante Islami mengatakan, gejala overfishing kini sudah terjadi di beberapa wilayah perairan laut Indonesia.

“Tanda-tanda menipisnya kekayaan laut Indonesia sudah muncul pada saat ini. Indikasinya antara lain daerah penangkapan yang semakin jauh dari pangkalan, penurunan hasil tangkap per satuan upaya, dan semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap,” terangnya.

Dante mengutip publikasi yang dilansir Newsweek pada 21 Mei 2012, yang menyebutkan, setelah 30 tahun, tangkapan ikan di suatu tempat menyusut 50 persen dan 27 tahun kemudian menyusut lagi menjadi 88 persen. Hal itu mengundang kesadaran nelayan agar melestarikan laut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Suparman menambahkan, penggunaan alat tangkap terlarang dan pelanggaran jalur tangkap oleh nelayan, mempercepat penyusutan kekayaan laut.

“Kesadaran nelayan dalam menjaga kelestarian sumber daya kelautan masih kurang,” katanya.

Akademisi dari STIE YPPI Rembang Syaiko Rosyidi mengatakan, sumber daya kelautan tidak melulu ikan, tetapi termasuk juga terumbu karang dan biota laut lainnya.

“Pengelolaan sumber daya kelautan tidak terbatas pada perikanan, tetapi juga mengenai upaya pariwisata kelautan untuk peningkatan daya saing daerah pesisir,” katanya.

Supar, salah seorang nelayan kecil asal Pandean Kecamatan Rembang membenarkan perlunya kesadaran nelayan guna menjaga kelangsungan sumber daya kelautan. Namun keterpentingan ini kerap berbenturan dengan aktivitas nelayan lain yang nekat menangkap ikan secara ilegal.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan