Kejari Tahan Tiga Lagi Tersangka Kasus Musala Fiktif

Rabu, 1 April 2015 | 16:27 WIB
Abd, Kabag Kesra Sekda Rembang (paling depan) saat hendak dititipkan ke Rutan Kelas IIB Rembang, Rabu (1/4/2015) pukul 15.10 WIB. (Foto: mataairradio.com)

Abd, Kabag Kesra Sekda Rembang (paling depan) saat hendak dititipkan ke Rutan Kelas IIB Rembang, Rabu (1/4/2015) pukul 15.10 WIB. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Jumlah tersangka pada kasus dugaan korupsi proyek musala fiktif di Desa Bogorejo Kecamatan Sedan bertambah menjadi lima orang. Kejaksaan Negeri Rembang baru menahan tiga dari empat tersangka tambahan itu setelah diperiksa Rabu (1/4/2015) ini.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Rembang Eko Yuristianto mengungkapkan empat lagi tersangka masing-masing berinisial UQ, MSA, AM, dan Abd. Namun UQ absen karena sakit. Sebelumnya, Kejari sudah menahan seorang tersangka berinisial Sln dan lebih dulu dititipkan di Rutan Rembang.

Eko juga mengungkapkan, ada seorang lagi yang diperiksa dalam kasus dugaan korupsi proyek musala fiktif ini. Yang bersangkutan merupakan salah satu anggota DPRD Rembang berinisial NH. Namun statusnya masih sebagai saksi dan belum dipastikan naik menjadi tersangka karena minim bukti.

“NH sudah kami periksa Senin (30/3/2015) kemarin. Kami periksa sebagai saksi. Bukti belum kuat untuk dinaikkan statusnya sebagai tersangka,” beber dia.

Pihak kejaksaan menjelaskan, UQ berperan sebagai penyedia nota material bangunan yang diduga palsu sebagai bahan menyusun dokumen LPj (Laporan Pertanggungjawaban). Menurut informasi yang dihimpun, UQ merupakan pemilik toko material.

Sementara MSA dan AM disebut sebagai “penjahit” atau pembuat LPj. Adapun Abd merupakan Kepala Bagian Kesra Setda Rembang yang dianggap lalai dalam mengawasi kucuran bantuan sosial ke musala.

Eko menegaskan, penahanan terhadap ketiga tersangka baru ini diperlukan agar mereka tidak memiliki kesempatan menghilangkan barang bukti dan berusaha melarikan diri atau memengaruhi proses penyidikan. Seperti Sln, tiga tersangka ini, juga akan dititipkan di Rutan Kelas IIB Rembang.

“Penyidikan kasus ini belum berhenti sampai di sini,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, proyek musala fiktif yang dimaksud bernilai Rp40 juta. Namun karena menggunakan kedok musala, maka Kejaksaan menindak tegas. Apalagi, disinyalir masih banyak lagi bantuan sejenis yang diselewengkan.

Menurut Kejaksaan, modus kejahatan itu menggunakan proposal fiktif. Diajukan menggunakan nama lain yang bukan merupakan pengurus di musala yang tertera dan proyeknya tidak ada. Kejari menuding Pemkab lemah dalam hal pengawasan distribusi dana bantuan sosial atau bansos tahun 2013.

Para tersangka akan dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP yang ancaman hukumannya, paling singkat empat tahun penjara.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan