Kejari Tahan Pelaku Proyek Fiktif Musala Bogorejo

Rabu, 18 Maret 2015 | 16:47 WIB
Tersangka Sln (45) saat masih menjalani pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Negeri Rembang, didampingi pengacaranya, Darmawan Budiharto, Rabu (18/3/2015) siang. (Foto: Pujianto)

Tersangka Sln (45) saat masih menjalani pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Negeri Rembang, didampingi pengacaranya, Darmawan Budiharto, Rabu (18/3/2015) siang. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Kejakaan Negeri (Kejari) Rembang, Rabu (18/3/2015) sore, menahan seorang pelaku proyek fiktif pembangunan musala di Desa Bogorejo Kecamatan Sedan.

Tersangka berinisial Sln (45) warga RT 3 RW 3 Desa Bogorejo. Tersangka ditahan karena Kejaksaan sudah mengantongi dua alat bukti cukup.

“Penahanan kami lakukan juga karena khawatir tersangka menghilangkan barang bukti, melarikan diri, dan memengaruhi penyidikan pokok perkara yang ditangani,” ungkap Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus pada Kejaksaan Negeri Rembang Eko Yuristianto.

Eko mengungkapkan, proyek yang dikemplang “hanya” bernilai Rp40 juta. Namun karena menggunakan kedok musala, maka pihaknya menindak tegas.

“Modusnya proposal fiktif. Diajukan menggunakan nama lain yang bukan merupakan pengurus di musala yang tertera. Proyeknya tidak ada,” terangnya.

Pihak kejaksaan akan mencecar lebih detail tersangka setelah melakukan penahanan.

“Salah satu yang akan kami ungkap lebih jauh adalah soal aliran dana Rp40 juta yang dikemplang, termasuk siapa yang membawa,” tegasnya.

Eko memastikan, Sln merupakan pembuat yang sekaligus penanggungjawab proposal tersebut.

“Kami memastikan pula bahwa ada sejumlah nama lain yang akan turut diperiksa dalam waktu dekat,” tandasnya.

Mengenai dugaan keterlibatan salah satu anggota dewan dalam persoalan ini, Eko enggan mengungkapkannya.

Apakah proyek itu merupakan aspirasi legislator, juga tak disebutkannya.

“Yang jelas, proyek tersebut dibiayai dengan dana bantuan sosial atau bansos,” bebernya.

Dia pun menyayangkan lemahnya pengawasan Pemkab Rembang dalam hal mengontrol distribusi dana bansos.

“(Apakah pihak Pemkab akan turut diperiksa), kami masih akan mendalaminya,” katanya.

Eko menambahkan, tersangka Sln dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Sln yang sebelum ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, dijemput paksa dari rumahnya, terancam hukuman paling singkat empat tahun penjara.

Saat ini, tersangka Sln dititipkan di Rutan Kelas IIB Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan