Kejari Korek Keterangan 6 Anak Buah Chaeron

Selasa, 21 April 2015 | 15:44 WIB
Kasi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto menunjukkan gambar pengecekan kualitas proyek pembangunan sistem saluran drainase yang digarap oleh pihak DPU Rembang. (Foto: Pujianto)

Kasi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto menunjukkan gambar pengecekan kualitas proyek pembangunan sistem saluran drainase yang digarap oleh pihak DPU Rembang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Penyidik di Kejaksaan Negeri (Kejari) Rembang, Selasa (21/4/2015) pagi mengorek keterangan dari enam anak buah CH alias Chaeron, tersangka kasus dugaan korupsi proyek di lingkup Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Mereka diperiksa sebagai saksi atas proyek penyehatan lingkungan permukiman berupa pembangunan sistem saluran drainase tahun 2014. Kepala Kejari Rembang I Wayan Eka Putra melalui Kasi Pidsus Eko Yuristianto menyebutkan, pekerjaan itu berlokasi di Dusun Pentil Desa Gunungsari-Kaliori.

“Nilai proyek yang diduga disalahgunakan itu sebesar Rp197 juta. Nilai kerugian negara akibat penyimpangan proyek tersebut sebesar Rp33,9 juta. Yang kami periksa sejak pukul 09.00 WIB tadi, antara lain bendahara DPU serta pejabat pemeriksa dan penerima hasil pekerjaan,” bebernya.

Menurut Eko, meski status keenam orang yang diperiksa itu, kini masih sebagai saksi, tetapi dipastikan ada yang naik status menjadi tersangka. Namun itu tidak sekarang, tetapi nanti sembari menunggu perkembangan hasil pemeriksaan.

Setelah anak buah Chaeron, pihak Kejari akan memanggil para saksi untuk tersangka Sinarman. Baik Chaeron maupun Sinarman merupakan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) terhadap tujuh proyek yang telah diterbitkan surat perintah penyidikan atau sprindiknya.

“Kami menangani kasus dugaan korupsi di DPU, secara pelan-pelan, karena keterbatasan jaksa penyidik. Kejari sudah melapor kepada Kejati Jawa Tengah untuk meminta tambahan jaksa, tetapi sejauh ini belum dipenuhi,” tandasnya.

Eko menambahkan, pihaknya belum akan melakukan penahanan terhadap Chaeron maupun Sinarman. Dia menyebutkan, proses hukum terhadap kasus ini masih cukup lama. Eko mengaku masih harus menunggu perhitungan ahli terkait pekerjaan dan perhitungan BPKP terkait nilai kerugian Negara.

Perhitungan terhadap pekerjaan dan nilai kerugian negara akan dilakukan setelah pemeriksaan terhadap para saksi dianggap cukup dan selesai. Chaeron dan Sinarman dijerat dengan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP yang ancaman hukumannya paling singkat dua tahun penjara.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan