Kebakaran Bisa Menjebak Gembala di Hutan Mantingan

Rabu, 23 September 2015 | 14:46 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan. (Foto: Antara)

Ilustrasi kebakaran hutan. (Foto: Antara)

 

REMBANG, mataairradio.com – Insiden kebakaran di musim kemarau, bisa menjebak gembala di hutan wilayah KPH Mantingan.

Hal itu karena aktivitas warga yang sering memiara ternak sampai ke dalam hutan dan kadang meninggalkan api dari pembakaran ketela.

Jika mereka bergeser ke bagian hutan lain, sementara sisa api masih ada lalu membakar serasah, mereka bisa terjebak kebakaran.

Kepala Bagian Humas Perhutani KPH Mantingan Ismartoyo mengaku sudah kerap mengingatkan mereka pada kemarau seperti sekarang.

“Tetapi kadang teguran itu diabaikan. Padahal jika tidak diindahkan, bisa membahayakan mereka sendiri,” terangnya.

Menurut catatan pihak Perhutani Mantingan, RPH Pamotan dan RPH Mantingan, menjadi dua resor hutan yang rawan terbakar.

Dia menjelaskan, kerawanan itu tidak hanya atas dasar aktivitas gembala, tetapi lebih karena vegetasi berupa semak belukar yang mengering dan mudah terbakar.

“Eksploitasi batu gamping yang dilakukan dekat kawasan hutan, terutama yang di RPH Pamotan juga bisa menjadi pemicu kebakaran,” ungkapnya.

Hingga September ini, sudah 56,11 hektare lahan hutan yang terbakar selama kemarau.

“Luasan lahan terbakar paling banyak terjadi pada bulan Agustus, yakni seluas 28,3 hektare,” katanya menyebutkan.

Sementara itu, dari luasan hutan yang terbakar itu, KPH Mantingan menanggung kerugian hingga Rp15 juta.

Kerugian paling banyak berasal dari tanaman jati muda yang tak kuat menahan panas. Berbeda jika jati tua yang terbakar, kemungkinan akan masih bisa bersemi lagi.

Ismartoyo menambahkan, penanganan kebakaran masih mengandalkan pertolongan pertama dari para pesanggem.

“Selebihnya, Perhutani meminta bantuan dari Regu Pemadam Pemkab Rembang,” imbuhnya.

Sebenarnya, pihaknya sudah mengusulkan mobil pemadam dari Pusat, tetapi belum kunjung dipenuhi, setidaknya hingga Rabu (23/92/2015) ini.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan