Katib Aam PBNU: Hari Santri Tonggak NKRI

Senin, 19 Oktober 2015 | 23:23 WIB
Gus Yahya ketika memberikan sambutan dalam rangka menerima rombongan Kirab Resolusi Jihad menyongsong Hari Santri Nasional di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh-Rembang, Senin (19/10/2015) siang.

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) ketika memberikan sambutan dalam rangka menerima rombongan Kirab Resolusi Jihad menyongsong Hari Santri Nasional di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh-Rembang, Senin (19/10/2015) siang. (Foto: Wahyu Salvana)

 

REMBANG, mataairradio.com – Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa Hari Santri Nasional merupakan momentum peringatan menancapkan tonggak keabsahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pernyataan itu diungkapkan Gus Yahya ketika menerima rombongan Kirab Resolusi Jihad menyongsong Hari Santri Nasional di Aula Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh-Rembang, Senin (19/10/2015) siang.

Menurutnya, siapapun yang meneriakkan syariat tetapi menuntut bentuk lain selain NKRI, harus ditolak.

“Siapapun yang membuat gerakan untuk menghancurkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan bersendikan bhineka tunggal ika, harus dilawan,” tegasnya.

Mantan Juru Bicara Presiden era mendiang Gus Dur ini menguraikan, proklamasi kemerdekaan RI adalah proklamasi yang sah menurut syariat.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan bersendikan bhineka tunggal ika adalah sah menurut syariat,” katanya menekankan.

NKRI sah menurut syariat menjadi alasan untuk dibela dengan jihad fisabilillah. Gus Yahya menekankan, tidak mungkin ada fatwa jihad, kecuali membela agama.

“Ketika membela negara itu jihad, maka yang dibela adalah agama,” tegasnya.

Ditambahkannya, karena telah jelas, jihad ditempuh untuk membela sesuatu yang sah menurut syariat, maka sejak 22 Oktober 1945, tidak bisa lagi ada gugatan terhadap NKRI, mengatasnamakan apapun.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan bersendikan bhineka tunggal ika adalah bentuk final dari upaya umat Islam di Indonesia mengenai negara,” tegasnya.

Seusai memberikan sambutan kepada rombongan Kirab Resolusi Jihad dan peserta kirab menyongsong Hari Santri Nasional di Rembang, Gus Yahya mempersilakan petugas dari PBNU untuk memimpin pembacaan lima butir ikrar santri Indonesia.

1. Sebagai santri NKRI, berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai, dan tradisi Islam Ahlussunah Waljamaah.
2. Sebagai santri NKRI, bertanah air satu; Tanah Air Indonesia, berideologi negara satu; ideologi pancasila, berkonstitusi satu; UUD 1945, berkebudayaan satu; kebudayaan bhineka tunggal ika.
3. Sebagai santri NKRI, selalu bersedia dan siap siaga, menyerahkan jiwa dan raga, membela Tanah Air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional, serta mewujudkan perdamaian abadi.
4. Sebagai santri NKRI, berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin untuk seluruh rakyat Indonesia.
5. Sebagai santri NKRI, pantang menyerah, pantang putus asa, serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan bhineka tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya yang bertentangan dengan semangat proklamasi kemerdekaan dan resolusi jihad Nahdaltul Ulama.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan