Kasus PLTU Intimidasi Wartawan, Polisi Perdalam Pemeriksaan

Senin, 19 September 2016 | 16:17 WIB
Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang AKP Eko Adi Pramono saat memberikan keterangan pers mengenai perkembangan penyelidikan kasus perampokan dan pembunuhan pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Senin 13/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Rembang AKP Eko Adi Pramono saat memberikan keterangan pers mengenai perkembangan penyelidikan kasus perampokan dan pembunuhan pedagang emas di Desa Maguan Kecamatan Kaliori, Senin 13/6/2016) pagi. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pihak penyidik di Kepolisian Resor Rembang menyatakan perlu melakukan pemeriksaan tambahan terhadap Sry, karyawan PLTU PJB yang diduga merampas ponsel berkamera milik wartawan saat peliputan di area UGD RSUD dr R Soetrasno, Agustus lalu.

Saat itu, 18 Agustus 2016, sejumlah wartawan yang hendak meliput korban kecelakaan kerja di PLTU dilarang, dihalang-halangi, dan diintimidasi oleh oknum pekerja yang diyakini bagian dari PLTU Pembangkitan Jawa Bali.

Namun pemeriksaan guna kepentingan pendalaman penyelidikan terhadap yang bersangkutan gagal dilakukan polisi pada Kamis (15/9/2016) pekan kemarin, lantaran Sry sedang ditugaskan oleh perusahaan di Jakarta.

“Yang diduga merampas HP, yang bersangkutan ada keperluan di Jakarta. Ada surat dari perusahaan. Ada pemeriksaan tambahan (untuk Sry),” ungkap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono, Senin (19/9/2016).

Eko yang didampingi penyidik kasus intimidasi PLTU kepada wartawan menyatakan akan melanjutkan pemeriksaan pada bulan depan. Kepala Satreskrim memastikan, penyelidikan kasus ini masih berjalan.

“Sudah enam orang dari pihak PLTU yang kita periksa (termasuk General Manager PLTU Sluke, Yudi Bagaskara, red.). Yang jelas dari yang ada di TKP, dari pihak rumah sakit, dan korban (sejumlah wartawan) kita sudah periksa,” katanya.

Hanya saja mengenai pergerakan penanganan kasus ke tahap penyidikan yang berarti ada penetapan tersangka, ia mengatakan tidak gegabah dan perlu cermat. Ia berjanji menangani kasus tersebut secara objektif dan menegaskan bahwa PLTU tidak kebal hukum.

“Kalau soal penanganan kasus ini dirasa mengganggu (otoritas) PLTU atau tidak, (yang mengeluh) secara langsung ke saya dan penyidik tidak pernah. Kalau nggak mau terganggu, ya jangan merampas HP wartawan,” tegasnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang Jamal A Garhan mengaku akan terus mengawal penanganan proses hukum atas kasus intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan.

“PWI Jateng melalui tim advokasi juga sudah menanyakan kepada Polres Rembang tentang perkembangan kasus ini, termasuk informasi dari pihak Polres Rembang bahwa rencana pemeriksaan tambahan terhadap Sry yang tertunda,” katanya.

Ia menegaskan persoalan intimidasi dan penghalang-halangan kerja jurnalistik tidak lagi menjadi permasalahan perseorangan, tetapi sudah menyangkut organisasi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan