Kartini Fair 2017 Angkat Tradisi Lokal Rembang

Jumat, 7 April 2017 | 19:47 WIB

Tradisi lokal di Kabupaten Rembang, menginang, diangkat sebagai titik pandang pada acara Kartini Fair yang berlangsung di Balai Kartini sejak 6-11 April mendatang. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tradisi lokal di Kabupaten Rembang cukup banyak diangkat sebagai titik pandang pada acara Kartini Fair yang berlangsung di Balai Kartini sejak 6-11 April mendatang.

Pada sesi pembukaannya, seni khas tari gambyong, dipentaskan. Karawitan dengan gending ladrang ginunjing pun mengiringi. Fesyen batik dan kostum ala pengantin juga mewarnai pameran tersebut.

Saat melewati pintu masuk Balai Kartini, di sisi timur dan barat pengunjung bisa langsung menyaksikan komunitas menginang atau menguyah daun sirih, berasal dari Desa Ceriwik-Pancur, tradisi masa lalu.

Bupati Rembang Abdul Hafidz mengapresiasi inovasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) setempat mengingat Kartini Fair baru kali pertama digelar guna menggaungkan semarak Hari Kartini.

Ia berharap agar wujud kreatifitas tersebut terus dilakukan untuk mengembangkan sektor pariwisata, apalagi telah menjadi pilar program pada lima tahun pemerintahan era Hafidz-Bayu.

“Sebagai tempat perjuangan Raden Ayu Kartini, Rembang harus memperlihatkan jejak dan perjuangannya agar bisa menginspirasi generasi muda, sekaligus momentum mewujudkan visi-misi RPJMD,” katanya.

Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang Dwi Purwanto membenarkan, Kartini Fair merupakan wahana pelestarian budaya serta tradisi lokal di daerah ini, sekaligus promosi potensi wisata dan kuliner khas Rembang.

“Kita ada stand dari guru-guru seni yang ada di Rembang dengan karya seni lukis tentang obyek-obyek wisata di Rembang. Kita bisa melihat ada lukisan warung kopi, lontong tuyuhan, kelenteng, omah londo, dan lainnya,” katanya.

Kartini Fair dibuka oleh Bupati Rembang, Kamis (6/4/2017) sore. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong dan pelepasan dua ekor dara ke alam lepas. Gerai di pameran pun dikunjungi satu per satu oleh Hafidz dan Bayu.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan