Kadus Aniaya Warga Divonis Dua Bulan Penjara

Selasa, 20 Oktober 2015 | 18:54 WIB
    Lainnya  4 dari 3.769   Sidang putusan kasus penganiayaan Akhmad Mustofa terhadap Tasrip, warga Desa Sendangmulyo Kecamatan Kragan, Selasa (20/10/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Sidang putusan kasus penganiayaan Akhmad Mustofa terhadap Tasrip, warga Desa Sendangmulyo Kecamatan Kragan, Selasa (20/10/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Akhmad Mustofa, Kepala Dusun Bogoran Desa Sendangmulyo Kecamatan Kragan yang menganiaya warganya, Tasrip, akhirnya divonis hukuman dua bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rembang melalui persidangan Selasa (20/10/2015) siang.

Tetapi vonis Majelis Hakim yang diketuai Antyo Harry Susetyo itu, tidak langsung membawa Mustofa ke balik jeruji penjara. Sang kadus masih diberikan waktu 7 hari untuk pikir-pikir dengan putusan Majelis Hakim.

Jika Mustofa menerima putusan itu, maka dia akan langsung dipenjara. Sementara pihak jaksa penuntut umum menyatakan banding atas putusan Majelis Hakim.

JPU sebelumnya menuntut Mustofa hukuman enam bulan penjara. Tasrip, warga yang dianiaya Mustofa mengaku tak puas dengan vonis itu. Dia berharap agar vonis itu sama dengan tuntutan.

“Vonis mestinya sama dengan tuntutan. Dia seorang kadus yang mestinya memberi contoh yang baik bagi warganya,” katanya.

Sementara itu, Akhmad Mustofa yang ditemui mataairradio secara terpisah seusai sidang menilai, vonis dari Majelis Hakim itu sudah tergolong ringan.

Sebab vonis itu dipotong masa tahanan kota yang telah dilakoninya sejak 3 Agustus silam.

Jika dihitung sampai dengan 20 Oktober ini, maka sudah 2 bulan 17 hari, Mustofa menjalani status tersebut.

Hanya saja, lima hari tahanan kota terhitung hanya sama dengan satu hari tahanan penjara. Sehingga dari masa tahanan kota yang dilalui, baru setara dengan 15 hari penjara.

Mustofa membenarkan, pihaknya menyatakan pikir-pikir atas vonis Majelis Hakim.

“Vonis sudah tergolong kecil (ringan). Tapi saya pikir-pikir dulu (menerima atau tidak) vonis itum” tegasnya.

Menurutnya, beberapa hal yang membuatnya kecewa ialah tidak hadirnya para saksi yang diajukannya, diduga karena ditakut-takuti oleh pihak korban.

Mustofa memukuli Tasrip karena tak kuasa menahan emosi yang disebutnya sudah menumpuk. Dia mengaku tersinggung dengan Tasrip yang mengatai dirinya tidak bekerja profesional sebagai kadus.

Tetapi kasus itu menurutnya bukan penganiayaan, melainkan perkelahian biasa.

Namun Tasrip mengaku tak sekalipun membalas pukulan demi pukulan yang mendarat ke wajahnya. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba dihentikan dan dipukuli oleh Mustofa.

Atas hal ini, Mustofa mengaku menjadikan kasusnya sebagai pelajaran untuk tidak mudah mengumbar emosi.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan