Kadiwono Kikis Krisis PD Warganya dengan Taman Pandansili

Friday, 16 June 2017 | 14:11 WIB

Ahmad Sofa, seorang warga berasal dari Kabupaten Jepara menikmati Taman Pandansili di Desa Kadiwono Kecamatan Bulu, Kamis (15/6/2017). (Foto: Pujianto)

 

BULU, mataairradio.com – Pihak Pemerintah Desa Kadiwono Kecamatan Bulu menyatakan bahwa sebagian warganya mengalami krisis percaya diri atau PD saat ditanya mengenai alamat tempat tinggal, sehingga menjawab berasal dari desa lain.

Kepala Desa Kadiwono Ahmad Ridwan menyebutkan, sebagian warganya lebih PD mengaku berasal dari Desa Mantingan ketimbang menyatakan berasal dari desanya sendiri karena tak banyak orang kenal alias kalah populer dari Mantingan.

Karena alasan krisis PD itu, kami bersama masyarakat berpikir untuk memunculkan sebuah ikon desa. Muncul lah ide membuat taman desa yang kita namai Taman Pandansili yang berada di pintu masuk desa ini,” katanya kepada mataairradio.com.

Ia menuturkan, taman yang dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi ini dilengkapi gasebo, arena bermain anak, dan neon box yang memadai ini, dibangun sejak sebulan lalu dan dijadwalkan selesai secara tuntas sebelum Lebaran tahun ini.

“Meskipun progres pembangunan baru sekitar 75 persen, sudah banyak masyarakat, termasuk yang berasal dari luar Rembang, memanfaatkan Taman Pandansili untuk berswafoto. Potret Taman Pandansili kini sudah beredar di media sosial,” katanya.

Ridwan juga mengatakan, sejak taman desa itu berdiri, kawasan masuk desanya yang biasanya gelap dan sepi pada malam hari, kini menjelma ramai dan hidup. Apalagi selain taman, persis di mulut akses, terpampang taman serupa bantuan Perhutani.

“Kami bangun Taman Pandansili dengan dana Rp200 juta. Bantuan dari PT Semen Indonesia. Kami juga terima kasih kepada Administratur KPH Mantingan yang banyak membantu untuk menciptakan Kadiwono Forest Village,” katanya, Kamis (15/6/2017).

Ahmad Sofa, salah seorang warga berasal dari Jepara menyatakan tertarik berfoto di Taman Pandansili. Menurutnya, ide membuat taman sekaligus sebagai ikon sebuah desa merupakan cipta kreatif, apalagi jika dilengkapi fasilitas pendukung lain.

“Di sini asri, karena kawasan hutan. Buat selfie juga asyik. Ke depannya, bisa saja disajikan kuliner khas desa setempat, yang dikemas rapi; memanfaatkan kedatangan pengunjung. Tinggal memelihara keasrian dan kecantikan tamannya saja,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan