Jelang Lebaran, Baju Setelan Laku Keras di Pasar Rembang

Sabtu, 2 Juni 2018 | 14:12 WIB

Salah satu kios penjual pakaian di Pasar Rembang, Sabtu (2/6/2018). (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

REMBANG, mataairradio.com – Memasuki pertengahan bulan Ramadan, banyak warga Rembang yang sudah berburu baju untuk persiapan Lebaran.

Dari pantauan mataairradio pada Sabtu (2/6/2017) pagi di Pasar Rembang, kios pakaian tampak ramai diserbu pembeli.

Khafidoh, distributor pakaian asal Kabupaten Kudus menyebutkan, baju setelan atau baju serasi lengkap atasan dan bawahan, laku keras.

“Baju setelan lakunya kayak jualan kacang. Laris manis. Model yang lain seperti gamis, brokat, koko, dan kaftan juga tetap laku, tapi tak seramai setelan,” katanya.

Soal kerudung atau hijab, menurut Khafidoh, jilbab syar’i masih diminati. Adapun baju muslim untuk laki-laki, masih mengandalkan stok tahun lalu.

“Jilbab masih yang syar’i-syar’i itu. Yang kerudung lebar itu. Kalau yang laki-laki, masih menghabiskan stok tahun lalu,” tuturnya.

Khafidoh menilai, meski kondisi pasar sudah relatif penuh sesak, tingkat pembeli pakaian belum bisa dikatakan membeludak.

Menurutnya, lonjakan pembeli pakaian akan signifikan pada sepekan menjelang hari raya.

“Ramai betul itu kalau seminggu sebelum hari raya,” tandasnya.

Ia mengaku menyuplai hampir semua kios pakaian di Pasar Rembang.

Kini, dalam seminggu, ia bisa tiga kali bolak-balik dari Kudus ke Rembang untuk menyuplai barang.

“Harapannya ya pasar selalu ramai, agar bisa bayar hutang,” katanya.

Susi Susanti, salah seorang pedagang pakaian di Pasar Rembang menyebutkan, busana muslim memang mulai banyak diburu oleh masyarakat.

“Ya ada yang membeli baju muslim sekaligus untuk satu keluarga; suami, istri, dan anak,” ujarnya.

 

Penulis: Mohammad Siroju munir
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan