Pembukaan Jalan Tembus Kota Tersendat Klaim KAI

Minggu, 27 April 2014 | 15:02 WIB
Peta Google Kawasan Desa Bogorame Kecamatan Sulang.

Peta Google Kawasan Desa Bogorame Kecamatan Sulang.

SULANG, MataAirRadio.net – Pembukaan jalan tembus antara Desa Pranti, Bogorame, Landoh, dan Pedak di Kecamatan Sulang dengan jantung Kota Rembang tersendat. Di perlintasan jalan ini, melintang pagar kayu milik pengusaha penggergajian log jati.

Menurut warga berdasarkan peta desa, jalan yang sempat hilang karena tergerus lahan pertanian, bersinggungan dengan rel milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang kini tak difungsikan. Sementara pengusaha penggergajian memiliki dua bidang tanah yang dipisahkan oleh rel dan jalan desa.

Namun sang pengusaha, kini menutup rel dan jalan desa dengan pagar kayu, berdalih telah melakukan akad sewa menyewa dengan PT KAI. Kepala Desa Pranti, Dahlan mengaku sedang berusaha mengklarifikasi persoalan ini ke PT KAI. Sebab KAI menyewakan hingga Maret 2015.

Kepala Desa Pedak, Nasuha menambahkan, pembukaan jalan tembus yang rencananya selebar tiga meter ini, diharapkan warga, demi akses yang lebih cepat ke Kota Rembang. Selama ini untuk sampai ke Kota Rembang, warga harus berjalan memutar dengan jarak lebih jauh.

Namun lantaran ada klaim dari PT Kereta Api Indonesia, proses pembangunan jalan yang rencananya dibiayai oleh program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) sengkuyung, belum bisa dilanjutkan, setidaknya hingga hari Minggu (27/4) ini.

Menurut Nasuha, sebagian warga berpotensi mendobrak paksa pagar penghalang. Akan tetapi, jalan terbaik masih dicari. Menurut rencana, Mei nanti akan ada pembicaraan terkait kelanjutan pembukaan jalan tembus tersebut.

Sementara itu, terkait persoalan pembukaan jalan tembus ini, Manajer Aset PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (Daops) IV Semarang Eman Sulaeman telah berkirim surat yang intinya masih menanti petunjuk dari pimpinan PT KAI.

Pada surat yang dikirimkan kepada Bupati Rembang dengan tembusan ke kades di empat desa tersebut, PT KAI mengaku terikat akad sewa dengan Haji Basis selaku pemilik penggergajian, hingga akhir Maret 2015.

Haji Basis sempat mengungkapkan, dirinya mempertimbangkan untuk tak berkeberatan membuka pagar kayu yang melintangi jalan desa, setelah bisa mengalihkan sebagian dari lokasi usahanya. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan