Ratusan Warga Istigasah untuk Keselamatan Bumi dan Air

Sunday, 12 October 2014 | 15:24 WIB
Istigasah Ratusan Warga (11/9/2014) di Aula Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembnag. (Foto: Wahyu)

Istigasah Ratusan Warga (11/9/2014) di Aula Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembnag. (Foto: Wahyu)

 

REMBANG, mataairradio.com – Ratusan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Gunem beristigasah atau berdoa untuk memohon pertolongan kepada Allah, Sabtu (11/10/2014) malam. Istigasah digelar di Aula Pesantren Raudlatut Thalibin, Kelurahan Leteh, Kecamatan Rembang.

Mereka yang datang berasal antara lain dari Desa Tegaldowo, Suntri, Timbrangan, dan Tengger. Selain itu pun tampak sejumlah anggota jemaah pengajian dari Kota Rembang dan Lasem.

Istigasah ini untuk keselamatan bumi dan air sekaligus memperingati 100 hari tenda protes penambangan semen Rembang. Acara digelar sejak pukul 19.30 WIB. Sebelum istigasah, seorang pentolan penolak pabrik semen sejenak menyampaikan paparan.

Joko Supriyanto, tokoh penolak rencana penambangan dan pendirian pabrik semen di wilayah Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang mengungkap lagi dampak buruk pabrik semen.

“Mari terus menjaga kelestarian lingkungan. Kalau masih ingat anak cucu, mari kita selamatkan bumi Rembang dari rencana pendirian pabrik semen,” kata Joko yang warga Desa Tegaldowo.

Seusai paparan singkat dari pemuda yang akrab disapa Joko Print ini, istigasah pun digelar dengan dipimpin oleh KH Syarofudin Ismail Qoimas. Namun Mbah Syarof –sapaan akrab KH Syarofudin Ismail Qoimas– menyelipkan pesan.

“Segala ikhtiar harus dilandasi keikhlasan. Gusti Allah akan ‘ngijabahi’ setiap usaha manusia apabila dilandasi dengan ikhlas,” ucap Mbah Syarof dan segera melanjutkan istigasah hingga selesai.

Salah seorang pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin KH Yahya Cholil Staquf yang berbicara usai istigasah namun masih dalam forum ini sempat bertanya mengenai nasib tenda protes penambangan semen di pintu masuk menuju tapak pabrik, kepada puluhan ibu-ibu yang menghuninya, tetapi hadir malam itu.

“Tendane ditinggal napa wonten sing nunggoni, Bu?” tanya Kyai Yahya yang kemudian dijawab, “Wonten (Ada),” oleh para ibu.

Gus Yahya, demikian KH Yahya Cholil Staquf biasa disapa, segera berpesan bahwa yang paling penting adalah memelihara niat. Apa yang dilakukan oleh para ibu dengan memprotes perusakan lingkungan dari rencana penambangan pihak pabrik semen, disebut perkara yang baik selagi demi ridla Allah.

“Ngrekso niat niku sing penting. Nek niate direkso, ono opo-opo ora wedi, nganti kapan wae ora bakal bosen. (Memelihara niat itu penting. Jika niatnya terpelihara, maka kalau ada apa-apa tidak takut, dan sampai kapan pun tidak akan bosan,” katanya.

Menurut Gus Yahya, keprihatinan sebagian warga terhadap pabrik semen di Gunem merupakan urusan yang besar. Dia menyebut urusan itu lebih besar dari sekadar urusan Gunem dan Rembang.

“Niki (pabrik semen) urusane bangsa Indonesia kabeh. Indonesia niki bumi sing banget sugihe. Wis diodol-odol penjajah sakmono suwene, Indonesia isih sugih. Nek ora Indonesia, menawa wis bubar negarane,” katanya.

Mantan Juru Bicara Presiden era Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) menyebut ada beragam tambang di Indonesia, tidak hanya bahan semen, tetapi juga bijih besi, uranium, gas bumi, nikel, dan sebagainya.

“Sampai saiki akeh sing ngincer bandane Indonesia. Karepe bumi dikeduki (ditambang), kamangka (padahal) ana menungso sing manggon ning nduwure. Bumi dikeduk (ditambang), nanging manungsane dibodoni,” demikian ungkap Gus Yahya.

Acara malam itu dihadiri pula oleh KH Zaim Ahmad Ma’shoem Lasem yang juga sempat memberikan paparan singkat. Pertemuan diakhiri dengan makan bersama nasi plus sambal terong khas pesantren sekitar pukul 22.00 WIB.

 

Penulis: Wahyu Salvana
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan