Ibu di Rembang Idamkan Rumah Tangga tanpa Kekerasan

Senin, 22 Desember 2014 | 17:48 WIB
Hasiroh Hafidz, Ketua Penasehat Panitia Peringatan ke-86 Hari Ibu di Rembang. (Foto:Pujianto)

Hasiroh Hafidz, Ketua Penasehat Panitia Peringatan ke-86 Hari Ibu di Rembang. (Foto:Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Peringatan ke-86 Hari Ibu dimanfaatkan oleh para ibu di Kabupaten Rembang untuk menyuarakan idaman sebuah rumah tangga yang tidak diwarnai dengan kekerasan di dalamnya.

Sejak 2008-2013, tercatat sebanyak 65 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 136 kasus yang melibatkan anak sebagai tersangka, dan 112 kasus yang menempatkan anak sebagai korban di Kabupaten Rembang.

Berdasarkan catatan yang dirangkum dari catatan pihak Polres Rembang itu, 136 kasus KDRT, 73 persen merupakan perempuan korban kekerasan fisik dan 27 perempuan korban penelantaran ekonomi.

Sementara kasus yang melibatkan anak sebagai tersangka, sebanyak 93 persen merupakan perkara pengeroyokan, sedangkan tujuh persen sisanya adalah perkara pencurian.

Adapun dari rentetan kasus yang menempatkan anak sebagai korban, 84 persen perempuan korban persetubuhan terhadap anak di bawah umur dan 16 persen korban anak pengeroyokan.

“Mewujudkan keluarga yang sakinah merupakan harapan bagi semua keluarga. Karena itu, kami gelar seminar sebagai upaya menuju keluarga sakinah dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap Hasiroh Hafidz, Ketua Penasehat Panitia Peringatan ke-86 Hari Ibu di Rembang, Senin (22/12/2014).

Menurut istri dari Plt Bupati Abdul Hafidz ini, ibu memiliki peran yang cukup strategis dalam keluarga, baik perannya dalam mendidik anak maupun mendampingi suami.

“Seorang ibu tidak boleh mengedepankan kekerasan dalam mendidik anak. Ibu lebih baik memberikan nasehat dengan bentuk berdialog dengan anak, jika anak melakukan kesalahan,” tandasnya.

“Dengan berdialog anak bisa tahu apa yang kita inginkan dan kita bisa memberi apa yang anak-anak inginkan,” sambungnya.

Sedangkan posisi ibu sebagai seorang istri, menurutnya, harus bisa mengerti dan memahami kesibukan dan karakter seorang suami.

“Sebagai istri, kita harus bisa memposisikan diri dan sabar. Seandainya suami ada kesalahan kita harus bisa memberikan solusi tapi kita harus tahu kondisi dan keadaan bapak pada waktu itu. Tidak harus ditegur saat itu juga, ya bisa menunggu disaat kondisi suami fresh dan situasi yang nyaman,” imbuhnya.

Hasiroh menegaskan, sebagai seorang istri juga harus bisa menerima masukan dari seorang suami.

“Dengan mengedepankan komunikasi yang baik di dalam keluarga, maka menurutnya, untuk mewujudkan keluarga sakinah dan tanpa kekerasan, tidak lah sulit,” pungkasnya.

Pada seminar yang dihadiri oleh ratusan ibu dan perempuan ini, peserta mendapatkan dua materi yakni pencegahan KDRT yang disampaikan Kabag Sumber Daya Polres Rembang Kompol Yohan Setiajid dan materi tentang keluarga sakinah yang disampaikan oleh M Muchsin dari Kantor Kementerian Agama Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan