Hari Nelayan di Rembang Dimeriahkan Tabur Sejuta Windu

Sabtu, 7 April 2018 | 17:45 WIB

Peringatan Hari Nelayan ke-58 di Kabupaten Rembang dimeriahkan tabur sejuta benih udang windu di Perairan Balongan Kragan pada Sabtu (7/4/2018) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Peringatan Hari Nelayan ke-58 di Kabupaten Rembang dimeriahkan tabur sejuta benih udang windu di Perairan Balongan Kragan pada Sabtu (7/4/2018) pagi.

Pemerintah dan masyarakat setempat bersama-sama menebar benih udang yang merupakan kekayaan asli Indonesia. Campur tangan masyarakat diperlukan untuk menjaga kelestarian windu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Suparman mengatakan, udang punya siklus mulai telur, larva, benih, dewasa, hingga induk. Benih udang ini ditebar agar windu terus berkembang.

“Aktivitas tebar benih udang windu ini dalam rangka restocking udang windu. Harapannya, karena windu asli Indonesia, bisa berkembang di Perairan Rembang,” katanya.

Selain tebar benih udang windu, peringatan Hari Nelayan di Kabupaten Rembang juga dimeriahkan dengan beragam acara lain, mulai jalan sehat, senam bersama, lomba memasak, hingga pentas musik dangdut.

Suparman menjelaskan, serangkaian acara tersebut digelar untuk menghargai jerih payah nelayan. Tidak hanya sebagai pahlawan protein, tetapi juga pahlawan devisa mengingat ekspor produk perikanan.

Apalagi nelayan juga berperan membantu Pemerintah dalam upaya peningkatan gizi masyarakat. Pihaknya ingin bersama dengan komponen masyarakat memberikan suguhan hiburan bagi nelayan.

“Acara ini dalam rangka memeringati Hari Nelayan ke-58. Jadi kita ingin menhargai jerih payah nelayan sebagai pahlawan protein dan pahlawan devisa. Selain itu, produk perikanan ini meningkatkan gizi masyarakat,” tandasnya.

Ali Nasikin, salah seorang panitia acara tersebut menilai peringatan Hari Nelayan yang dilangsungkan di Pantai Balongan Indah, berlangsung semarak. Tampak dari kawasan pantai yang penuh sesak.

Mengenai aksi tabur sejuta windu, menurutnya, bermanfaat. Meskipun warga sekitar adalah nelayan yang bekerja sebagai anak buah kapal, tetapi upaya menjaga ekosistem laut tetap bisa dilakukan di mana saja.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan