Harga Rendah, Petani Belum Tergoda Jual Garam

Rabu, 13 April 2016 | 14:54 WIB
Persediaan garam di gudang milik Rasmani, petani di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Persediaan garam di gudang milik Rasmani, petani di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

KALIORI, mataairradio.com – Sebagian petani garam di wilayah Kecamatan Kaliori belum tergoda menjual garam yang kini ditampung di gudangnya antara lain karena tingkat harga yang dianggap masih rendah.

Suwardi, seorang petani garam di Desa Purworejo, Rabu (13/4/2016) pagi menyebutkan, harga garam kualitas biasa atau KW II kini Rp400 per kilo, sedangkan yang kualitas super atau KW I Rp500 per kilogram.

“Harga itu rendah, karena harga pokok pembelian garam yang ditentukan Pemerintah Rp550 per kilo untuk garam KW II dan Rp750 per kilo untuk garam KW I,” bebernya kepada reporter mataairradio.

Ia pun menyebutkan, jumlah tampungan garam di gudangnya mencapai 500 ton dan nyaris belum pernah dikeluarkan untuk dijual sejak panen di tahun 2015.

“Kalau tahun sebelumnya, bulan seperti ini (April), saya tinggal punya tampungan 200 ton karena banyak keluar terjual. Kalau harga masih segitu, ya nanti dulu jualnya. Nunggu kalau harga naik,” tandasnya.

Ia menduga, masih rendahnya tingkat harga garam pada kuartal pertama 2016 lantaran jumlah tampungan garam di gudang petani, melimpah.

Rasmani, petani garam lain di desa itu menduga, masih rendahnya harga garam karena terdampak Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam.

Permendag tersebut dianggap menghilangkan kewajiban bagi importir untuk menyerap garam rakyat sedikitnya 50 persen dari total kapasitas produksi perusahaan.

“Akibatnya ya garam petani lokal sulit laku, karena kalah dengan kualitas garam impor. Garam lokal seperti dinomorduakan,” imbuhnya.

Ia menyatakan, kondisi pasar garam saat ini masih sepi dan terjadi tidak hanya di Kabupaten Rembang, tetapi juga di Madura dan Cirebon.

“Kami berharap Pemerintah mengendalikan garam impor yang masuk ke Indonesia agar para petani garam lokal tidak malah kesulitan untuk memasarkan garamnya,” pungkasnya.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan