Harga Gula Terus Merosot, Petani Tebu Ganti Tanam Tembakau

Rabu, 13 Juni 2018 | 14:17 WIB

Tebu petani di Rembang. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Harga lelang gula di pabrik terus merosot. Jika di awal musim giling, harga lelang gula sempat di angka Rp10.500 per kilogram, maka ketika hari terakhir sebelum giling tutup sementara pada 11 Juni lalu, harganya tinggal Rp9.700 per kilogram.

Maryono, salah seorang tokoh petani tebu di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang menyebutkan, sebagian petani memang masih bertahan menanam tebu dengan sisa-sisa modal.

“Tetapi, jika harga gula terus turun, sedangkan ongkos tenaga kerja terus naik, modal akan habis dan petani tidak menanam tebu lagi,” keluhnya.

Di daerahnya, sebagian petani sudah mulai beralih menanam tembakau, bekerjasama dengan PT Sadana Arifnusa. Artinya, setelah tebang, lahan tidak lagi ditanami tebu, tetapi langsung diolah untuk ditanami tembakau.

“Sudah belasan petani yang beralih ke tembakau,” katanya.

Lalu tidakkah bisa petani tebu mengalihkan produksinya dari pabrik gula ke industri gula tumbu? Maryono mengatakan, saat ini harga gula tumbu juga sedang turun.

“Per kilogram hanya Rp6.000. Menurutnya, harga gula tumbu pernah di angka Rp6.500 per kilo, tapi cuma sesaat,” terangnya.

Ia juga menyebutkan, dengan harga gula tumbu yang hanya Rp6.000 per kilogram, jika diperbandingkan, maka nilainya sama dengan harga lelang gula di angka Rp9.700 per kilogram.

“Lain halnya, bila harga gula merah Rp6.500-Rp7.000 per kilogram; sebagian pasti lari ke gula tumbu,” tandasnya.

Saat ini dengan harga lelang gula sebesar Rp9.700 atau harga gula tumbu Rp6.000 per kilogram, menurut Maryono, tingkat kerugian petani rata-rata Rp12 juta per hektare.

“Hitungannya, per hektare lahan, dihasilkan empat ton gula, sedangkan harga untung petani Rp12.000 per kilo. Jika harga lelang gula cuma Rp9.000-an, maka 4 ton kali Rp3.000 lah. Kan Rp12juta (ruginya),” urainya.

Sementara itu, atas tingkat harga lelang gula yang terus merosot, pihak Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) sudah sempat bertemu Presiden untuk menyuarakan aspirasi, tapi belum ada hasil yang signifikan.

Maryono menuding, merosotnya harga akibat pengaruh gula impor.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan