Pergerakan Harga Elpiji Subsidi Dipantau Intensif Jelang Puasa

Jumat, 13 Juni 2014 | 17:02 WIB
SPBE di bilangan Pasarbanggi Kecamatan Rembang, Selasa (11/2) siang. (Foto: Puji)

SPBE di bilangan Pasarbanggi Kecamatan Rembang (Foto: Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Rembang menyatakan memantau pergerakan harga elpiji bersubsidi secara intensif pada menjelang bulan Puasa dan Lebaran tahun ini.

Menurut Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang Muntoha, Seksi Perlindungan Konsumen di dinasnya bersama para agen elpiji tabung melon, telah dimintanya turun lapangan untuk mengawasi praktek penjualan LPG oleh para pangkalan.

Target pengawasan terhadap pangkalan adalah agar mereka tidak menjual elpiji bersubsidi di atas harga Rp16.000 per tabung. Dia menilai, harga perolehan sebesar itu di tingkat konsumen, sudah cukup mahal. Pengawasan secara intensif dilakukan, agar begitu ada permainan di tingkat pangkalan, segera ada komunikasi dengan Pertamina, untuk dilakukan penindakan.

Muntoha mengakui memang ada persoalan pada distribusi elpiji bersubsidi di level pangkalan. Pangkalan di Rembang tidak tersedia di tiap desa, sehingga dijadikan peluang oleh beberapa pihak untuk memainkan harga.

Selama ini, elpiji dari pangkalan tidak langsung dinikmati oleh konsumen rumah tangga, tetapi lebih dulu dinikmati oleh pengecer. Sementara pengecer tidak termasuk dalam mata rantai distribusi elpiji bersubsidi yang diatur oleh Pemerintah melalui Kementerian ESDM.

Akibatnya terdapat selisih harga dari pengecer ke konsumen. Pengecer butuh keuntungan untuk mengkaver ongkos transportasi dan margin laba, sehingga harga menjadi mahal. Sepanjang Mei kemarin, harga elpiji bersubsidi di Rembang sempat menyentuh Rp22.000 per tabung.

Selain mengawasi pergerakan harga elpiji bersubsidi secara intensif, pihak Dinas Perdagangan juga mencermati pergerakan harga sembako setiap tiga hari. Sejauh pengamatannya hingga Jumat (13/6) pagi, belum ada gejolak yang berarti dan menjadi sorotan secara nasional.

Hanya saja, Muntoha menegaskan, jika nantinya ada gejolak harga yang mulai dirasa memberatkan masyarakat, pihaknya akan cepat kontak dengan Bupati, untuk mengusulkan pasar murah atau operasi pasar terhadap komoditas tertentu. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan