Harga Cabai Petani Rembang Terpuruk

Rabu, 27 Agustus 2014 | 18:21 WIB

KALIORI, MataAirradio.net – Petani cabai di Kecamatan Kaliori mengeluhkan harga cabai merah lantaran terus menerus jatuh. Harga cabai merah di tingkat pengepul hanya Rp2.000 per kilogram. Jika pun ada yang Rp5.000, itu yang cabai merah besar.

Sumijan, salah seorang petani cabai di Dusun Mulo Desa Gunungsari mengatakan, harga cabai ini terpuruk, karena musim lalu paling murah Rp15.000 dan mencapai Rp25.000 per kilogram. Dengan harga senilai itu, petani sulit untuk balik modal.

Apalagi, petani harus menanggung ongkos lebih untuk pemberantasan hama daun keriting. Menurutnya, harga obat pembasmi hama ini mencapai seratus ribu rupiah per kemasan. Itu pun serangan hama masih terjadi alias tidak mempan diobati. Dia tak tahu sebabnya, apakah karena iklim atau efek lain.

Sumijan juga mengatakan, meski harga cabai terpuruk, petani tidak membiarkan tanaman begitu saja. Mereka tetap memanen cabai, walaupun hasil panen kadang hanya bisa untuk membelikan jajanan bagi para buruh panen. Dia menegaskan, panen cabai musim ini tidak bersemangat.

Menurutnya jika diitung-itung, untuk lahan tak sampai seperempat hektare, diperlukan biaya paling sedikit Rp2,5 juta. Dari biaya itu, petani hanya mampu mengembalikan rata-rata separuhnya dari hasil panen. Dia menyebut, harga cabai Rp2.000, hampir tidak pernah terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Petani berharap, harga cabai mencapai puluhan ribu rupiah, agar mereka bisa berpendapatan. Namun meski harganya terpuruk, Sumijan tak berpikir untuk alih komoditas dan menggulung tanaman cabainya. Apalagi kemarau segera mencapai puncaknya, sedangkan cabainya masih beberapa kali petik.

Seperti diketahui, petani di wilayah Kecamatan Kaliori cukup banyak mengembangkan tanaman cabai keriting. Selain Desa Gunungsari, tanaman cabai ada di Desa Kuangsan, Pasarbanggi, dan Desa Pengkol. Umumnya mereka mengeluhkan harga cabai yang dianggap sangat rendah. Di pasaran, stok cabai cukup melimpah karena berbagai daerah di Jawa Timur dan selatan Jawa Tengah sedang panen raya komoditas ini. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan