Ini Pesan Gus Mus di Tahun Politik

Rabu, 28 Februari 2018 | 19:13 WIB

Pengasuh  Pesantren Raudlatut Thalibin Lateh Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus memberikan pesan perdamaian kepada masyarakat khususnya ditahun politik.

Pesan ini disampaikan saat dikunjungi Direktur Pembinaan Ketertiban Masyarakat pada Korbinmas Baharkam Polri Brigadir Jenderal (Brigjend) Sutarno di kediamannya pada Selasa (27/2/2018) kemarin.

Menurut Kyai kharismatik ini, bahwa masa sekarang ini disebut tahun politik dan dalam tahun ini kita menghadapi pilkada serentak.

“Bagi yang tidak “titen” adanya Pilkada cukup mengganggu pikiran, sedangkan bagi yang “titen” malah bisa belajar dari Pilkada sebelumnya,” tegas Kyai sekaligus budayawan ini.

Gus Mus percaya dalam tahun politik ini polisi lebih siap untuk menjaga kondisi masyarakat lebih kondusif.

Selain itu Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Lateh Rembang ini berharap bahwa Pilkada memang benar-benar sebagai pesta rakyat.

“Calon pemimpin yang maju di Pilkada tidak ada orang Arab, Belanda, ataupun Australia sehingga yang terpilih pasti orang Indonesia dengan demikian kalau tidak memikirkan Indonesia berarti dia bukan pemimpin Indonesia,” tambahnya.

Dalam tahun politik kali ini, Gus Mus juga menghimbau jangan sampai bertengkar dengan saudara karena berbeda pilihan.

Ibaratnya kita boleh memuji istri sendiri namun jangan mencela istri orang lain.

“Kita boleh memuji-muji calon yang kita dukung seperti istri kita, tapi jangan menjelekkan calon lain,” pungkasnya.

Diakhir pesannya, Gus Mus berdoa semoga dalam tahun politik ini bisa menghasilkan pemimpin yang memikirkan rakyat Indonesia.

 

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Arif Bahtiar

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan