Gus Mus: Santri Dididik Memandang Indonesia sebagai Rumah

Senin, 19 Oktober 2015 | 23:13 WIB
Perwakilan rombongan kirab dari Surabaya menyinggahkan sejenak bendera merah putih dan pataka NU dengan menyerahkannya kepada KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di aula pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh. (Foto: mataairradio.com)

Perwakilan rombongan kirab dari Surabaya menyinggahkan sejenak bendera merah putih dan pataka NU dengan menyerahkannya kepada KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di aula Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Ulama sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengatakan santri dididik oleh kyainya antara lain untuk memandang Indonesia sebagai rumah.

Hal itu diungkapkan Gus Mus ketika menyambut rombongan Kirab Resolusi Jihad menyongsong Hari Santri Nasional di aula pesantren, Senin (19/10/2015) siang.

“Karena melihat Tanah Air Indonesia sebagai rumah, maka santri akan selalu menjaganya,” katanya.

Menurut mantan Pejabat Rais Aam PBNU, santri itu orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang ada di Indonesia.

Santri itu paham dirinya bukan turis di negeri ini, sehingga siapa yang mengacaukan Indonesia, akan berhadapan dengan para santri.

“Tidak seperti Noordin M Top dan Azahari yang mengebom Indonesia karena Indonesia bukan rumahnya,” tandasnya.

Namun Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh-Rembang ini mengemukakan, penghargaan untuk santri, tidak diberikan oleh Pemerintah selama ini.

Bahkan perjuangan para santri untuk jihad membela Tanah Air dari tentara sekutu yang mendarat di Surabaya, tak tercatat sejarah.

Penghargaan kepada santri justru datang lewat tulisan dari seorang wartawan Arab bernama Sayyid Asad Syihab.

Wartawan ini menulis sebuah laporan khusus dengan judul “Al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wadhi’u Labinati Istiqlali Indonesia” yang artinya Mahakyai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Gus Mus, kendati tidak ditulis di lembaran sejarah Indonesia, para kyai tidak pernah mempertanyakan, lantaran dianggap mengurangi kadar keikhlasan.

Termasuk kiprah Kyai Baidlowi Lasem yang pernah menunjuk delegasi untuk memata-matai Belanda di Sayung, Demak.

KH Ahmad Mustofa Bisri menambahkan, nama santri itu tidak hanya bagi mereka yang mondok di pesantren, tetapi juga yang sedang belajar di sekolah formal atau perguruan tinggi.

“Asalkan bersikap tawaduk kepada Allah dan orang-orang alim, itu santri,” tambahnya.

Gus Mus pun mengklarifikasi bahwa Hari Santri Nasional dimunculkan oleh Pemerintah. Hanya memang tanggalnya diusulkan oleh Nahdlatul Ulama, agar diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

“Ada apa kok tiba-tiba Pemerintah menetapkan Hari Santri,” pungkasnya.

 
Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan