Gus Mus: Mau Jadi Pemimpin Kok Dipimpin Dukun

Rabu, 2 April 2014 | 16:11 WIB
Ulama sekaligus budayawan ternama Indonesia KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto:Wahyu)

Ulama sekaligus budayawan ternama Indonesia KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto:Wahyu)

REMBANG, MataAirRadio.net – Ulama sekaligus budayawan ternama Indonesia KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengaku geli dengan fenomena calon pemimpin bangsa akhir-akhir ini. Misalnya saja calon anggota legislatif atau caleg. Sebagian dari mereka, menurut Gus Mus, mencalonkan diri sebagai pemimpin, namun belum apa-apa sudah dipimpin oleh dukun.

Buktinya, kata Gus Mus, mereka mau saja diminta kungkum atau berendam dalam air selama beberapa waktu. Padahal, sebagai calon pemimpin, mereka mestinya mampu memimpin dukun, bukan malah dukun yang memimpin mereka.

Gus Mus menilai yang demikian bukan pemimpin. Menurutnya, pemimpin itu memimpin orang yang akan dipimpin, bukan yang meminta dipimpin. Dengan cara seperti itu, menunjukkan bahwa ada beberapa caleg yang tidak percaya diri.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang ini juga semakin geli ketika mendapati banyak lembaga yang terkesan berlomba menampung caleg stres. Tidak hanya rumah sakit, sebuah pesantren di Grobogan, malah tak ketinggalan menawarkan diri untuk menampung caleg yang stres jika gagal menjadi anggota legislatif.

Gus Mus mengaku tak mengerti apa yang ada di otak para caleg ini. Nampaknya, menurut dia, hanya di Indonesia yang ada seperti ini dan disebutnya lucu. Dia menyindir, untuk apa ingin menjadi pemimpin, jika sama sekali tidak memiliki modal untuk memimpin.

Ini sekaligus menunjukkan ketidaksiapan sebagian anak bangsa dalam mewujudkan demokrasi yang menganut suara terbanyak. Untuk menjadi pemimpin, asal mendapat banyak dukungan, entah bagaimana caranya, akan jadi. Sebagian dari mereka lantas menggunakan uang sebagai cara gampang mendapat dukungan.

Gus Mus menambahkan, caleg atau calon pemimpin yang tidak mengetahui ukuran dirinya rawan stres dan terkena hal buruk lainnya. Mestinya mereka mau mengukur diri. Sebab dia menekankan, orang tidak akan rusak jika tahu ukuran dirinya sendiri. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan