Gus Mus: Cinta Materi Berlebihan Sumber Korupsi

Senin, 7 Maret 2016 | 18:52 WIB
KH Ahmad Mustofa Bisri saat memberikan wawancara kepada awak media usai menerima kunjungan silaturahmi dan permohonan restu KPK dalam pelibatan pesantren pada gerakan antikorupsi di Indonesia, Senin (7/3/2016) siang. (Foto: Wahyu Salvana)

KH Ahmad Mustofa Bisri saat memberikan wawancara kepada awak media usai menerima kunjungan silaturahmi dan permohonan restu KPK dalam pelibatan pesantren pada gerakan antikorupsi di Indonesia, Senin (7/3/2016) siang. (Foto: Wahyu Salvana)

 

REMBANG, mataairradio.com – Mustasyar PBNU sekaligus Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus berpendapat bahwa sumber korupsi itu adalah kesenangan terhadap materi atau dunia yang berlebihan.

Menurutnya, kecintaan terhadap harta yang berlebihan itu memunculkan keserakahan atau ketamakan. Pernyataan Gus Mus ini sebagai sumbang pendapat untuk diskusi kyai dengan KPK yang perlu digelar untuk menemukan akar masalah korupsi di Indonesia.

Gus Mus mengatakan, diskusi tidak hanya penting untuk menemukan hal-hal yang bisa menjurus korupsi, tetapi juga perlu untuk mencari akar dari masalahnya. Seperti halnya aksi terorisme di negeri ini. Jika hanya menangkap pelaku terornya, maka sampai kiamat terorisme akan terus terjadi.

“Kalau menurut saya sumber korupsi itu adalah kesenangan terhadap materi yang berlebihan. Itu menurut saya. Dalam bahasa Anda keserakahan atau ketamakan. (Korupsi) Akibat kesenangan terhadap materi yang berlebihan,” ujarnya.

Menanggapi silaturahmi KPK dan duta besar antikorupsi, Gus Mus menyebut bahwa kedua pihak saling memberi. Pesantren bisa mendapatkan dari KPK tentang seluk beluk korupsi yang disebutnya “njlimet” dan yang kadang tidak diketahui orang awam. Informasi dari KPK soal korupsi penting.

Dengan mengerti seluk beluk dan apa saja yang dikategorikan sebagai korupsi secara rinci, maka kalangan pesantren; kyai, santri dan pengurusnya akan bisa jaga diri dan hati-hati. Sebab menurutnya, penguasa dan pengusaha sering sering berhubungan dengan kyai untuk kepentingan mereka.

“Ada yang tidak kyai tahu. Misalnya pemberian-pemberian oleh pihak tertentu. Oleh kyai (pemberian) dianggap sebagai kemurahan hati bahkan (pemberinya) sampai didoakan,” katanya.

Sementara dari pesantren, KPK mendapat masukan tentang nilai-nilai yang mendukung pemberantasan korupsi, misalnya di pesantren ada konsep “mabadi khaira ummah”, yaitu kejujuran, keadilan, dan amanah. Gus Mus mengakui, pencegahan korupsi lebih penting dari sekadar penindakan.

“Ada nilai dan norma di pesantren yang bisa digunakan KPK untuk membantu kerja mereka memberantas korupsi khususnya di segi pencegahan. Pencegahan lebih penting,” tegasnya.

Senin (7/3/2016) sekitar pukul 11.00 WIB, Gus Mus dikunjungi rombongan terdiri atas KPK, duta besar antikorupsi, Majma’ Buhust An-Nahdliyyah atau Forum Kajian ke-NU-an, dan Jaringan GUSDURian Indonesia. Perbincangan dilakukan di kediaman Gus Mus hingga sekitar pukul 13.00 WIB.

Pada kesempatan itu, Gus Mus juga sempat menyinggung kampanye gerakan hidup sederhana agar tidak terjebak pada korupsi dan cinta terhadap dunia secara berlebihan. Namun ia menyindir bahwa kampanyenya itu tidak banyak didengar, antara lain karena kurangnya dukungan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan