Gus Mus Beri Pesan bagi NU di Harlah ke-92

Rabu, 31 Januari 2018 | 19:41 WIB

Mustasyar PBNU Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan pesan bagi Nahdlatul Ulama (NU) yang pada 31 Januari 2018 ini genap berusia 92 tahun. (Foto: Wahyu Salvana)

 

REMBANG, mataairradio.com – Mustasyar PBNU Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan pesan bagi Nahdlatul Ulama (NU) yang pada 31 Januari 2018 ini genap berusia 92 tahun.

“NU harus menata jam’iyahnya menjadi organisasi yang sebenar-benarnya organisasi. Sebab sekarang, masih ada dikotomi NU kultural dan struktural,” katanya kepada mataairradio di kediamannya.

Dikotomi tersebut, menurutnya yang ditemui pada Rabu (31/1/2018) pagi, merupakan tanda bahwa NU belum berhasil men-jam’iyahkan jemaahnya.

“NU dulu lahir tidak seperti organisasi lain. Sebab, organisasi ini sejak awal sudah punya jemaah, komunitas yang berkelakuan sama,” katanya.

Jemaah itu, menurutnya, adalah masyarakat pesantren, santi, alumni santri, dan kiai.

Mereka tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Ternate.

“Para pendahulu seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Bisri Sansuri, Kiai Wahab Chasbullah, dan lainnya men-jam’iyahkan mereka ini agar pengabdian kepada umat dan masyarakat lebih sangkil dan mangkus,” terangnya.

Gus Mus menambahkan, bila belum berhasil men-jam’iyahkan jemaah, maka NU akan sulit untuk mandiri dan memanfaatkan potensinya.

“Menurut penelitian beberapa tahun lalu, potensi NU ini besar. Anggota 60 juta,” katanya.

Namun ia menilai, potensi yang sedemikian besar, belum diperankan dan difungsikan secara seimbang.

“Kalau saya mengibaratkan itu (potensi besar NU) seperti pisau cukur yang tajam, tapi hanya dipakai mengupas bawang. Ya gampang, tapi tidak sepadan,” katanya.

Untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya, NU wajib menjadi organisasi yang benar.

“Kalau sebagai jam’iyah ya semuanya didasarkan pada aturan yang berlaku di organisasi,” pungkasnya.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang ini juga mengingatkan, karena sudah berusia 92 tahun, maka sewindu lagi NU berumur satu abad.

“Menurut hadis Nabi, di penghujung satu abad, akan ada pembaru atau yang ‘ngayar-ngayarke’ agamanya. Agamanya tetap (islam) tetapi penerapannya yang macam-macam,” katanya.

Menurutnya, sekarang ini, agama Islam dibawakan oleh mereka yang tidak paham Islam.

“Ini tantangan bagi NU. Kita mengharapkan mujadid (pembaru, red.) nanti dari NU,” katanya.

Gus Mus menambahkan, selain penguatan organisasi, tantangan bagi NU lainnya adalah ideologi dan politik kebangsaan.

“Tantangan lain adalah munculnya ideologi yang jauh dari pemahaman NU yang ahlussunnah waljamaah. Juga soal ciri khas NU soal politik kebangsaan,” katanya.

Disebutkannya, sekarang ada sebagian warga NU yang tidak paham bahwa Indonesia ini rumah yang didirikan oleh bapak-bapaknya warga Nahdlatul Ulama.

“Ciri orang NU itu menjaga rumahnya sendiri, Indonesia. Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari) sampai dijuluki peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia. Ini rumah kita yang harus kita jaga,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan