Gus Mus Beber Model Dakwah “Bil Film”

Friday, 15 January 2016 | 18:31 WIB
KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus dalam sebuah perbincangan dengan reporter mataairradio, seusai pengambilan gambar dakwah bil fim di kediamannya di kompleks Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jumat (15/1/2016) pagi. (Foto: Wahyu Salvana)

KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus dalam sebuah perbincangan dengan reporter mataairradio, seusai pengambilan gambar dakwah bil fim di kediamannya di kompleks Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jumat (15/1/2016) pagi. (Foto: Wahyu Salvana)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, membeber model dakwah dengan sarana film atau dakwah “bil film”.

Menurut Gus Mus di kediamannya, Jumat (15/1/2016) siang, dakwah bil film mengadopsi konsep dakwah bil hal atau dakwah lewat perbuatan baik yang dilakukan secara terus menerus.

“Misalnya dengan mengangkat pola hidup sederhana, budaya gotong royong, dan memuliakan tamu, yang kini masih dilakukan sebagian besar masyarakat di desa,” tuturnya kepada reporter mataairradio.

“Atau menampilkan kesetiakawanan masyarakat di desa ketika ada salah seorang warga yang meninggal dunia, di mana warga datang mengalir saja untuk memberikan empati dan simpati kepada keluarga musibah,” sambungnya.

Menurut Gus Mus, yang demikian itu juga merupakan anjuran agama dan sebagai dakwah tanpa berpidato dan tanpa harus banyak omong.

“Film barat itu tidak pidato. Pesannya tidak kelihatan. Baru begitu nonton film, tahu-tahu, tahu saja pesan film itu. Tanpa harus dipidatoni atau digurui,” terangnya.

Ulama sekaligus budayawan yang kini berusia 71 tahun ini mengatakan, pola dakwah perlu dikembangkan agar lebih maju.

“Tidak melulu dakwah bil lisan, yang paling banyak dihadiri 40.000 orang atau yang umum 2.000-5.000 orang,” tandasnya.

Mengenai efektivitas dakwah dengan sarana film, menurut Gus Mus, yang penting di awal orang jadi tahu perilaku yang baik.

“Kalau dianggap baik dan bermanfaat, maka orang akan meniru,” terangnya.

Sementara kalau tidak, ia mengingatkan, dakwah itu mengajak; bukan membenarkan atau menyalahkan, dan tidak mesti berhasil.

“Jika pun belum efektif, maka menurutnya, perlu dicari dan dikoreksi; mengapa orang lebih suka menonton sinetron atau bioskop,” tegasnya.

Hal itu pula yang sejak awal diwanti-wantikannya, agar dakwah bil film ditangani secara profesional. Bahkan sampai mendatangkan produser beken dunia, Dominic Jackson.

“Kalau penanganannya serius, tenanan, dan profesional, hasilnya insyaAllah diterima,” katanya.

Gus Mus menambahkan, dakwah lewat sarana film diilhami oleh cara mengajak yang dilakukan para pendahulu, seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

“Pada masanya, Sunan Bonang berdakwah dengan sarana alat musik bonang, sedangkan Sunan Kalijaga menggunakan media wayang,” kisahnya.

Pada saat ini, eranya film, sehingga jika digarap secara profesional, maka akan bisa diterima umat. Apalagi konten dakwah islam yang disiarkan ialah agama otentik.

“Artinya tidak diajarkan dari mesin pencari, “google”, atau terjemahan, tapi ilmu yang diajarkan dari kyai; kyai dari kyai, bersambung terus sampai Sahabat, Rasulullah (Muhammad SAW), Malaikat Jibril, dan sampai Allah. Sanadnya musalsal, jadi bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan