Gas Eksplorasi Krikilan Paling Cepat Diproduksi 2018

Senin, 23 Januari 2017 | 14:29 WIB

Paparan pihak PHE Randugunting menyebutkan bahwa eksplorasi Randugunting-2 (RGT-2) selama 50 hari sejak 21 November 2016 menghasilkan laju alir gas dengan rata-rata maksimum sebesar 12,94 mmscfd dan 130 miliar kaki kubik per hari (bcfd). (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kandungan gas yang ditemukan melalui Eksplorasi Randugunting-2 di wilayah Desa Krikilan Kecamatan Sumber paling cepat bisa diproduksi pada 2018 mendatang.

Itu pun menurut General Manager PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting Abdul Mutalib Masdar pada jumpa pers belum lama ini, jika Pemerintah memutuskan memakai satu sumur saja.

Dijelaskannya, dalam rencana tindak lanjut hasil Eksplorasi Randugunting-2, tiga skema ditawarkan kepada Pemerintah melalui SKK Migas dan Pertamina.

Pertama, katanya, produksi satu sumur. Kedua multiwell basis atau produksi dari lebih satu sumur. Ketiga, sumur deliniasi lewat survei seismik 3 dimensi atau 3D.

“Paling cepat diproduksi pada 2019 kalau pakai 3D. Tapi kalau pake layer satu sumur, maka paling cepat, 2018. Dari tahap eksplorasi ke tahap produksi butuh PoD (plan of development),” katanya pada 19 Januari lalu.

Ia mengakui, Direksi Pertamina maunya langsung dilakukan produksi atas temuan gas dan kondensat di Rembang. Tetapi katanya karena gas itu dijual, maka investor biasanya perlu tahu umur kandungannya ketika diproduksi.

“Soal berapa total cadangan gas dan kondensatnya belum diketahui secara utuh karena masih berhitung luasan. Butuh waktu untuk evaluasi. Ini saja kita masih pakai data 2D. Idealnya pakai data 3D biar tahu lapisan,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Masdar kembali menegaskan bahwa gas Krikilan masuk dalam kategori suit. Ia juga menyebut temuan gas dan kondensat di Sumur Randugunting-2 sebagai oase di tengah sepinya temuan migas di Indonesia.

Di lingkup Blok Randuguting, dengan luas wilayah kerja 2.102 kilometer persegi meliputi Rembang, Blora, Pati, Grobogan, dan Tuban, hanya di Rembang yang menuai hasil signifikan.

Blok Randugunting dibuka sejak 2007. Tahun 2015 sempat ketemu kandungan di Sumur Wonopotro Blora, tetapi kandungannya dianggap tak cukup dilanjutkan ke tahap produksi.

Eksplorasi Randugunting-2 (RGT-2) selama 50 hari sejak 21 November 2016 menghasilkan laju alir gas dengan rata-rata maksimum sebesar 12,94 mmscfd dan 130 miliar kaki kubik per hari (bcfd).

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan