Pasar Limun Merosot Alasan Garuda Sakti Kembangkan Jamu

Saturday, 22 March 2014 | 16:00 WIB
Armada pemasaran limun merek breakdance. (Foto Dikutip dari laman terbanglayang)

Armada pemasaran limun merek breakdance. (Foto Dikutip dari laman terbanglayang)

SULANG, MataAirRadio.net – Usaha Dagang (UD) Garuda Sakti Rembang buka-bukaan soal alasan banting setir ke produksi jamu. Direktur Garuda Sakti Heny Waryanti mengungkapkan, merosotnya antusias terhadap limun menjadi alasan utamanya. Namun dia menegaskan, tidak akan menutup total produksi limun bermerek breakdance.

Heny mengisahkan, limun produksinya pernah moncer di era 1990. Kala itu, produksi sempat kewalahan menutupi kebutuhan karena saking larisnya. Belakangan dia mulai sadar, produknya hanya diminati konsumen kelas bawah. Sementara, konsumen yang demikian mulai bergeser selera ke minuman kelas menengah seperti minuman berkarbonasi.

Sebelum breakdance benar-benar habis, dia pun merilis produk baru, yang sama sekali berbeda dari fokus awal Garuda Sakti, yakni jamu atau obat herbal. Hingga Sabtu (22/3) ini, pihaknya masih membuat limun untuk melayani pelanggannya di wilayah Jatirogo Kabupaten Tuban, Blora, Bojonegoro, dan Rembang sendiri.

Lantaran masih mempertahankan produksi limun yang disebut kurang berpihak terhadap kesehatan karena banyak mengandung karbon, Garuda Sakti masih tetap mempertahankan 25 orang pekerja. Heni juga menyebut, kesibukan mereka kini bertambah, karena permintaan produk jamu produksinya, mulai bergairah.

Soal jamu berbahan pinus massoniana buatannya, dia optimistis bisa menggaet kepercayaan pasar. Apalagi, tren permintaan konsumen mulai beralih dari produk kimia ke herbal. Sejauh ini, produksi jamu milik Garuda Sakti memang belum melibatkan tenaga ahli, misalnya dari mancanegara.

Namun pihaknya memastikan, kontrol kualitas produk tetap dilakukan secara ketat. Buktinya, konsumen di luar negeri pun menyatakan ketertarikan mengonsumsi produk jamunya. Diberitakan sebelumnya, pasar di Perancis, Swiss, Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan Hongkong, mulai menggunakan produk obatnya.

Usaha produksi jamu bermerek Garudapine dan limun bermerek Breakdance dilakukan di pabrik yang berlokasi di bilangan Desa Kemadu Kecamatan Sulang, tepi Jalan Rembang-Blora. Pada Jumat (21/3) kemarin, salah satu pelanggan Garudapine asal Perancis berkunjung ke pabrik jamu tersebut.

Sunoto, suami dari Heny Waryanti yang merupakan pencipta produk jamu Garudapine mengaku terilhami penelitian 14 profesor China yang menemukan khasiat di balik tanaman pinus massoniana, jika diproduksi sebagai obat. Karena bahan bakunya melimpah, dokter sepuh ini menyebut, industrinya potensial. (Pujianto)




One comment
  1. Meilia Rahayu Winarsih

    March 22, 2014 at 6:13 pm

    Bravo Garuda Sakti yang menyelamatkan perusahaannya pada khususnya dan mengangkat Rembang di kancah Internasional.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan