Ratusan Ton Garam Petani Kaliori Lenyap Diguyur Hujan

Sabtu, 8 November 2014 | 15:52 WIB
petani-garam-rembang

Seorang petani di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang sedang memanen garam di tambak yang digarapnya, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

 

KALIORI, mataairradio.com – Ratusan ton garam milik para petani di wilayah Kecamatan Kaliori lenyap mencair akibat diguyur hujan deras pada Jumat (7/11/2014) malam.

Garam yang lenyap ini umumnya adalah yang masih dibiarkan teronggok di tepi pematang tambak dan rencananya baru akan dimasukkan ke gudang pada Sabtu (8/11/2014) pagi.

“Hujan deras semalam membuat tambak saya banjir. Bahkan garam yang sudah dipanen, namun masih ditaruh di atas pematang, bablas,” ungkap Rasmani, petani garam di Dusun Karangpandan Desa Purworejo.

Dia menyebutkan, garam hasil panennya merupakan komoditas kualitas premium dengan harga pasar Rp600 per kilogram. Menurutnya ada, sekitar 25-30 ton garam yang kembali mencair akibat diguyur hujan tadi malam.

“Punya saya ada sekitar 25-30 ton yang lenyap. Ini garam yang premium, harganya Rp600 per kilogram. Ya dikalikan saja, ketemu nilainya (mencapai Rp18 juta),” katanya.

Hendro, petani garam lainnya yang memiliki tambak di Dresi Wetan menyebut hujan semalam memang tidak lama, tetapi deras dan merata. Dia mengaku kehilangan garam hingga empat kuintal lantaran belum dimasukkan ke dalam gudang.

“Jarak dari tambak ke gudang saya, cukup jauh. Tambak saya di tengah. Saya biasa ngangkut ke gudang atau langsung tak jual, baru sekali dalam seminggu. Ini ya hilang karena diguyur hujan. Sekitar 3-4 kuintal,” katanya.

Dia menyebutkan, hasil panen yang ditampung sejak Senin (3/11/2014) hingga Jumat (7/11/2014) kemarin menjadi gagal jual. Semestinya dia akan menjual hasil panennya itu pada Selasa (11/11/2014) depan, sebagaimana janjinya kepada bakul.

“Dengan begini ya gagal menjual. Ini saya sudah akan tiga kali ini menjual. Kemarin-kemarin harganya Rp370 per kilogram untuk garam kualitas umum,” katanya sembari menambahkan bahwa butuh waktu hingga tiga hari agar bisa kembali produksi. Itu pun jika cuaca terik.

Sementara itu, berdasarkan pantauan mataairradio.com, hingga 8 November 2014, atau sekitar dua bulan masa produksi garam, rata-rata gudang, baru bisa terisi sekitar 20 persen. Sebagian petani memilih langsung menjual panennya, agar bisa segera mendapatkan uang, sebagai sarana pemenuhan kebutuhan.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




One comment
  1. AGUNG PRIYONO

    November 9, 2014 at 1:20 pm

    Usul sedikit. Sebaiknya para petani garam sudah siap-siap saat musim hujan mau datang. Saya tiap hari lewat Kaliori jadi paham betul aktivitas para petani garam ini. Menurut pengamatan sy menjelang datangnya musim hujan para petani garam bukannya bersegera memasukkan garamnya ke dalam gudang malah terus saja melakukan aktivitas produksi.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan