Ribuan Ton Garam di Gudang Petani Rembang Hilang

Rabu, 22 Januari 2014 | 14:11 WIB
Petani mencoba menyelamatkan garam di dalam gudang. (Foto:Puji)

Petani mencoba menyelamatkan garam di dalam gudang. (Foto:Puji)

KALIORI, MataAirRadio.net – Puluhan ribu ton garam di gudang petani di Kecamatan Kaliori, hilang mencair akibat direndam genangan air dari luapan saluran dan tambak pada Rabu (22/1) pagi.

Di gudang milik Haji Pupon, warga Desa Purworejo Kecamatan Kaliori misalnya, sekitar 4.000 ton garam kini hampir semuanya mencair. Jika semuanya hilang, maka nilai kerugiannya mencapai lebih dari dua miliar rupiah. Kini dirinya sedang berusaha menanggul tepi gudang, untuk mengurangi air yang masuk.

Madiyono, petani garam dari Desa Dresi Kulon yang memiliki tiga gudang di Dusun Dresen Desa Purworejo juga mengaku, kehilangan 390 ton garam. Tiga gudangnya direndam air setinggi 60 centimeter. Sedianya, garam di gudang itu akan dijual untuk tambahan ongkos naik haji di tahun ini. Sebelum musibah ini, sempat ada yang akan membeli garamnya dengan harga Rp600 per kilogram, namun sang istri melarangnya.

Kawit, petani garam dari Desa Tunggulsari yang memiliki gudang di wilayah Desa Dresi Kulon mengatakan, air sudah masuk ke dalam hingga setinggi sekitar 20 centimeter. Dia mengerahkan dua orang tenaga untuk memasang tanggul berasal dari sak berisi pasir, guna mencegah air masuk lebih banyak.

Ada sekitar 60 ton garam di dalam gudangnya. Jika dijual dengan harga umum yang berlaku sekarang atau Rp530 per kilogram, maka nilai kerugiannya mencapai Rp30juta. Dia membenarkan, genangan air membuat butiran garam melebur.

Selain gudang itu, ada lagi tempat penyimpanan garam yang terendam, namun milik kakaknya. Ada sekitar 25 ton di dalamnya. Lantaran sudah terendam, seisi gudang pun langsung dikuras. Jika pun menyewa mobil, sudah tidak bisa karena suasana krodit.

Selain garam, ratusan ribu ekor ikan bandeng yang sedang dibudidayakan petani di wilayah Kecamatan Kaliori, juga hilang terhanyut. Ali Ashar, petani di Dusun Wates Desa Tasikharjo mengaku, kehilangan sekitar 10.000 ekor ikan bandeng.

Jika dinilai dengan uang, kerugiannya mencapai Rp10juta. Meski semalam sempat menunggui tambaknya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika air meluap cepat dan bandengnya amblas. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan