Gara-gara Pilkada, Warga Jotos Tetangga

Senin, 12 Oktober 2015 | 18:45 WIB
Ilustrasi (Foto: bodyofart.com)

Ilustrasi (Foto: bodyofart.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Diduga gara-gara persoalan pilkada, seorang warga menjotos tetangganya hingga memar di Desa Sumberjo Kecamatan Pamotan, Sabtu (10/10/2015) malam lalu.

Korban bernama Sulasdi, sedangkan penjotosnya bernama Mino, warga setempat. Keduanya berbeda dukungan untuk pasangan calon kepala daerah Rembang.

Senin (12/10/2015) pagi, persoalan tersebut masih ditangani Polsek Pamotan. Koordinator Divisi Pengawasan pada Panwas Pilkada Kabupaten Rembang Budi Handayani yang sudah terjun ke lapangan untuk investigasi menyatakan, kasus jotosan itu pidana umum, bukan pidana pemilu.

Menurutnya, memang pemicunya adalah pembentukan tim kampanye pasangan Hamzah Fatoni-Ridwan di Desa Sumberjo yang dinilai tidak izin kepada pihak desa.

“Namun pemukulan itu terjadi di warung kopi, setelah acara yang membentuk tim kampanye itu selesai. Jadi ini kriminal murni, tidak pidana pemilu,” katanya.

Kepala Desa Sumberjo Purwanto mengaku mempertanyakan izin pertemuan di kediaman Sulasdi kepada Tim Kampanye Hamzah-Ridwan di Kecamatan Pamotan karena ada sebagian warga yang menyoal.

“Saya kepala desa. Saya ingin ada etika ketika seseorang menggelar pertemuan di desa kami,” tandasnya.

Dia pun mengaku sempat tidak tahu, kalau ada perselisihan yang berujung pemukulan Sulasdi oleh Mino di warung kopi. Tetapi dia menyebut pemukulan itu bukan sebagai penganiayaan, melainkan hanya emosi sesaat dari Mino.

“Itu bukan penganiayaan. Hanya emosi sesaat saja. Kami juga sudah berusaha mendamaikan keduanya,” katanya.

Bahkan Sulasdi sempat menerima uang Rp500 ribu dari Mino untuk berobat. Namun jika ternyata Sulasdi memilih melaporkan Mino ke polisi dan mengembalikan uang tersebut, dia menyatakan menghargai.

“Kami siap memberikan keterangan kepada polisi jika diminta,” tegasnya.

Sholeh, anggota DPRD Rembang yang juga Ketua Tim Kampanye Pasangan Hamzah Fatoni-Ridwan di Kecamatan Pamotan menyebut jotosan itu tidak perlu terjadi, jika kepala desa tidak terlalu reaktif soal pertemuan di rumah Sulasdi tersebut.

Dia yang sempat hadir di pertemuan itu menganggap, pertemuan kecil semacam itu tidak perlu sampai izin kepada desa. Namun jika pihaknya dianggap salah, dia sudah sempat menyatakan permintaan maaf.

“Hanya saja, yang terjadi justru yang punya rumah jadi korban pemukulan,” katanya.

Sholeh menduga, Kades Sumberjo terlibat dukung-mendukung calon lain, sehingga bertindak reaktif. Dia menyerahkan penanganan perkara pemukulan itu kepada polisi, agar tidak ada lagi, kasus serupa di lain daerah.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan