Gara-gara Kompensasi BBM, Dasmuri Pukuli Ketua RT

Sabtu, 29 November 2014 | 16:40 WIB
Mashadi, Ketua RT 2 RW 3 di Desa Terjan Kecamatan Kragan, korban pemukulan salah seorang warganya yang protes tidak dijatah KPS. (Foto:Pujianto)

Mashadi, Ketua RT 2 RW 3 di Desa Terjan Kecamatan Kragan, korban pemukulan salah seorang warganya yang protes tidak dijatah KPS. (Foto:Pujianto)

 
KRAGAN, mataairradio.com – Diduga lantaran tidak terima orang tuanya tak mendapat jatah dana kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi, seorang warga di Desa Terjan Kecamatan Kragan, nekat memukuli hingga luka seorang ketua rukun tetangga (RT) di daerah setempat.

Peristiwa itu menimpa Mashadi (61), Ketua RT 2 RW 3 Desa Terjan Kecamatan Kragan, Sabtu (29/11/2014) pagi. Awalnya, dia hendak membagikan kartu perlindungan sosial (KPS) kepada warga penerima program simpanan keluarga sejahtera (PSKS) untuk mengambil dana kompensasi sebesar Rp400 ribu.

Dalam perjalanannya, Mashadi diprotes oleh salah seorang warga bernama Dasmuri (36), lantaran ibunya yang bernama Sukarni, tidak menerima KPS. Dia pun lantas menjelaskan bahwa sekadar membagi sesuai data yang diterima oleh pihak desa.

“Saya katakan kepada Dasmuri, saya hanya membagi. Tidak menambah atau mengurangi. Saya katakan, kalau mau protes, tanya kepada Pak Inggi (Kepala Desa, red.). Lalu dia hendak merebut kartu yang saya bawa. Saya pertahankan kartu ini, tetapi saya malah dipukul pakai kayu,” tutur Mashadi.

Akibat dipukuli dengan kayu, Mashadi menderita luka memar dan lecet di bagian kakinya. Ketua RT itu pun melaporkan Dasmuri ke Polsek Kragan guna diproses lebih lanjut.

Dasmuri yang dihubungi seusai diperiksa di Mapolsek Kragan mengaku emosi spontan setelah Ketua RT tidak mau meminjamkan KPS yang dibawa. Dia mengaku merasa tidak dianggap sebagai keluarga miskin, terutama ibunya.

“Ibu saya orang miskin. Sudah nggak ada yang kerja. Saya anaknya, hanya bekerja serabutan sebagai buruk angon sapi. Sementara yang dapat dana BBM ini malah orang yang (notabene) mampu, punya motor, dan dekat dengan pejabat desa. Saya emosi. Saya pukul kakinya pakai kayu,” kata Dasmuri.

Pihak Polsek Kragan sebatas memeriksa Dasmuri dan belum menetapkannya sebagai tersangka penganiayaan terhadap Mashadi. Polisi berharap kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan lantaran kesalahpahaman.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Rembang Abdul Hafidz menghimbau warga agar tidak saling menyalahkan atas dugaan ketidakakuratan data penerima PSKS.
“Data berasal dari BPS. Terkadang desa tidak mengetahui, karena BPS mengerahkan petugas lapangan. Pemkab Rembang tak berwenang mengubah,” kata Plt Bupati.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

iklan-kandung-toko-alat-listrik

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan