Eks Karyawan Apotek Daerah Merasa Dipermainkan Pemkab

Jumat, 3 April 2015 | 17:49 WIB
Apotek Daerah kembali dibuka pada Selasa (31/3/2015). (Foto:Pujianto)

Apotek Daerah kembali dibuka pada Selasa (31/3/2015). (Foto:Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Setidaknya empat dari delapan orang karyawan Apotek Daerah Rembang mengaku belum kunjung menerima pembayaran tunggakan empat bulan gaji mereka. Padahal apotek plat merah ini sudah kembali aktif. Dewan pengawas juga mengklaim sudah menutup tunggakan utang.

Nanik Wijayanti, salah satu karyawan Apotek Rembang berharap agar gajinya di bulan September hingga Desember 2014 dibayarkan. Ia mengaku pernah bertanya kepada Bagian Perekonomian dan dijanjikan akan dibayar secara perlahan. Dia pun pernah mendatangi Sekda Rembang untuk hal yang sama.

Karyawan yang bekerja di Apotek Rembang sejak tahun 1992 ini kaget oleh pemberitaan yang menyebut apotek kembali aktif setelah menutup tunggakan utang Rp90 juta, termasuk gaji karyawan. Dia menegaskan belum menerima gaji. Sejak Januari, dia juga mengaku sudah tak lagi bekerja di apotek daerah.

“Kaget waktu baca berita di internet (mataairradio.com). Disitu Dewan Pengawas bilang apotek sudah kembali aktif dan semua tunggakan sudah dibayar, termasuk gaji karyawan. Padahal kami belum menerima pembayaran gaji,” bebernya.

Siti Zulaikhah, karyawan lain di Apotek Rembang mengaku bingung karena belum juga ada kejelasan soal empat bulan gajinya, yang belum dibayarkan. Dia juga merasa diberhentikan sepihak setelah lebih dari 20 tahun bekerja di apotek daerah. Dirinya merasa dipermainkan oleh Pemkab.

Saat bertemu Sekda Rembang Hamzah Fatoni, Februari lalu, mereka disebut tidak akan diputus hubungan kerja (PHK) karena apotek daerah masih akan terus berjalan. Namun nyatanya, pada saat apotek daerah kembali beroperasi, dia tidak menerima kabar dari manajemen baik via surat maupun telepon.

Karena merasa tidak lagi dibutuhkan, warga Kabongan Kidul Kecamatan Rembang ini mengaku tidak pernah datang lagi ke apotek daerah. Hingga Jumat (3/4/2015) ini, dia masih menganggur.

“(Merasa dipermainkan) Ya jelas. Kami bingung karena belum ada kejelasan (soal pembayaran gaji). Ini juga apotek sudah aktif, tetapi kami nggak dikabari. Kalau nggak dipekerjakan lagi mestinya tidak sepihak begini. Nggak ada kabar lewat surat atau telepon. Saya sudah lebih dari 20 tahun bekerja,” katanya.

Nanik P, karyawan lainnya lagi di Apotek Rembang menambahkan, bagaimana pun tunggakan gaji mereka harus dibayar. Mestinya Pemkab tak keberatan karena nilai gajinya hanya sekitar satu juta rupiah atau di bawah upah minimum kabupaten. Sekarang ini, dia mengaku sudah bekerja di apotek swasta.

“Ya mesti dibayar lah. Cuma berapa sih. Kayak saya, sekitar satu juta lebih sedikit per bulan. Di bawah UMK. Memang sudah kerja di apotek lain sejak apotek daerah tutup,” tegasnya.

Ketua Dewan Pengawas Apotek Daerah Rembang Muntoha mengaku sudah menutup tunggakan apotek sehingga toko obat itu kembali aktif pada Selasa 31 Maret kemarin. Saat ini, jumlah karyawan apotek sudah dipangkas. Setelah tunggakan gaji dibayar, empat dari delapan karyawan, tidak lagi dipakai.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan