Ekonomi Lesu Turut Kerek Tingginya Perceraian di Rembang

Friday, 4 September 2015 | 18:35 WIB

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG, mataairradio.com – Kelesuan ekonomi nasional turut mengerek tingginya angka kasus perceraian di wilayah Kabupaten Rembang.

Delapan bulan sejak Januari tahun ini, sedikitnya sudah 749 permohonan perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama Rembang.

Panitera Sekretaris pada Pengadilan Agama Rembang Masykur menjelaskan, faktor ekonomi mendominasi alasan suami-istri mengajukan cerai.

Menurutnya, istri yang kurang puas atas nafkah suaminya, beberapa memilih menjadi tenaga kerja wanita, dan begitu merasa hidup enak, mereka bercerai.

“Selain itu, (perceraian) juga karena faktor tingkat pendidikan yang rendah,” katanya.

Masykur juga menjelaskan, setiap permohonan perceraian, hampir pasti diterima, tetapi belum tentu dikabulkan. Begitu masuk persidangan pertama, akan ada penundaan sidang untuk dilakukan mediasi.

“Mediasi dilakukan oleh hakim lain yang tidak sedang mengadili perkara yang bersangkutan,” terangnya.

Tetapi berdasarkan catatan pihak panitera, hanya 10 persen upaya mediasi yang berhasil. 90 persen lebihnya gagal, karena yang bersangkutan sudah kukuh bercerai.

Secara latar belakang profesi, mereka yang bercerai mulai dari kalangan petani, pedagang, hingga pegawai dan guru.

Menurut catatan pihak Pengadilan Agama Rembang, angka permohonan perceraian terbanyak terjadi pada bulan Februari dengan 110 kasus, sedangkan yang terendah Juli lalu dengan 75 kasus.

Masykur tidak bisa menyebutkan secara rinci, sebaran daerah asal dari mereka yang bercerai.

Meski baru delapan bulan tetapi sudah 749 kasus perceraian, catatan Rembang ini disebut masih lebih rendah dari Pati dan Jepara.

Sayangnya, Masykur pun tidak menyebut angka pasti perbandingannya, tetapi saat rapat koordinasi antar-daerah di wilayah Pati, perbandingan itu terungkap.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan