Dua Tersangka Kasus Hibah Fiktif Jadi Tahanan Kota

Kamis, 16 April 2015 | 18:45 WIB
Kasi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto. (Foto: Pujianto)

Kasi Pidsus Kejari Rembang Eko Yuristianto. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Dua tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah fiktif untuk Musala Arrahmah Desa Bogorejo Kecamatan Sedan kini alih status penahanan dari tahanan rumah tahanan menjadi tahanan kota. Keduanya adalah bos material Ummi Qoyyimah dan Kabag Kesra Setda Abdullah.

Pengalihan status tahanan itu berlaku sejak Rabu 15 April kemarin. Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Rembang I Wayan Eka Putra lewat Kasi Pidsus Eko Yuristianto, pengalihan status tahanan terhadap Ummi Qoyyimah alias UQ dilakukan antara lain berdasarkan pendapat penyidik dan permintaan suami.

“Selain itu, karena UQ mau jadi justice collaborator (seorang pelaku tindak pidana tertentu yang bukan pelaku utama, mengakui perbuatannya, dan bersedia menjadi saksi sekaligus mengungkap perkara yang lebih besar). Keterangan UQ mengarah ke seorang anggota DPRD berinisial NH,” katanya.

Eko yang ditemui wartawan pada Kamis (16/4/2015) menambahkan bahwa alasan yang sama juga dipakai untuk mengabulkan permintaan pengalihan status tahanan dari Abdullah. Namun ternyata, Bupati Rembang Abdul Hafidz juga turut memintakan pengalihan status tahanan terhadap Kabag Kesra tersebut.

Kasi Pidsus menegaskan perlakukan yang sama tidak bisa diterapkan terhadap Salimun, M Solikul Anwar, dan Ali Maksum. Tiga tersangka ini tetap harus ditahan di rumah tahanan karena merupakan pelaku utama dalam kasus ini. Mereka adalah pembuat proposal dan laporan pertanggungjawaban palsu.

“Kendati alih status menjadi tahanan kota, dua tersangka tersebut tetap kami pantau secara ketat. Mereka tetap wajib lapor setiap tiga hari. Ummi dan Abdullah juga tetap akan duduk sebagai terdakwa nantinya dan dihukum jika dinyatakan terbukti bersalah di depan Majelis Hakim,” katanya.

Lalu kenapa Kejaksaan Negeri Rembang tidak menerapkan saja tahanan rumah terhadap Ummi dan Abdullah? Eko berdalih tahanan kota pun masih bisa diawasi. Dia menekankan, jika keduanya terlambat sehari saja melakukan wajib lapor, maka pihak kejaksaan akan langsung mencarinya.

Pihak Kejari mengaku tak khawatir keduanya menghilangkan barang bukti, karena semuanya sudah dikantongi. Kejaksaan menangani dugaan korupsi dana hibah fiktif sebesar Rp40 juta untuk Musala Arrahmah Desa Bogorejo Kecamatan Sedan mulai Februari 2015, tetapi dana yang dikorupsi itu tahun 2013.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan