Dua Desa di Rembang Lakukan Pelabelan Keluarga Miskin

Rabu, 13 Maret 2019 | 01:52 WIB

Stiker ukuran A3 yang bertuliskan “Keluarga Miskin” yang ditempel di rumah para penerima PKH Desa Telgawah Kecamatan Gunem. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dua desa di Kabupaten Rembang melakukan pelabelan terhadap keluarga penerima manfaat (PKM) atas program keluarga harapan (PKH). Dua desa itu adalah Desa Demaan dan Telgawah di Kecamatan Gunem.

Pelabelan tersebut berupa penempelan stiker ukuran A3 yang bertuliskan “Keluarga Miskin”. Upaya itu dilakukan untuk menanggapi polemik penerima bantuan PKH yang dinilai tidak tepat sasaran.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang, Mustajab membenarkan adanya desa yang melakukan pelabelan terhadap keluarga penerima manfaat atas PKH.

“Hal itu kan untuk meminimalisir penerima PKH yang secara kasat mata dianggap mampu secara ekonomi, namun masih menerima bantuan,” terangnya.

Sedangkan, Nasaton Rofiq Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial (Dayasos) pada dinas yang sama menyebutkan, selain dua desa yang sudah melakukan pelabelan terhadap keluarga penerima PKH, ada satu desa lagi yang menyusul melakukan hal yang sama. Yakni Desa Pamotan Kecamatan Pamotan.

“Dengan pelabelan tersebut keluarga penerima manfaat yang merasa mampu dengan sadar diri mundur dari penerima program PKH, sehingga warga yang seharusnya menerima PKH namun belum terdaftar dapat terkaver menjadi penerima PKH,” tegasnya.

Ia menjelaskan, keanggotaan keluarga penerima manfaat atas program keluarga harapan hanya bisa lepas, jika yang bersangkutan mengundurkan diri atau dikeluarkan oleh pihak desa melalui musyawarah desa (Musdes).

“Rencananya, pelabelan bagi warga yang menerima program keluarga harapan akan dilakukan secara menyeluruh oleh pemerintah pada tahun 2020, dengan anggaran dari APBD,” katanya.

Salah satu warga penerima manfaat dari program keluarga harapan asal Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, Romlah mengaku tidak keberatan dengan rencana pelabelan di rumahnya, karena ia merasa memang tidak mampu.

Berdasarkan informasi yang dirinya dapatkan, bahawa pelabelan keluarga miskin bagi keluarga penerima manfaat akan dilakukan sekitar satu atau dua minggu mendatang.

“Jika ke depannya kami sudah mampu secara ekonomi, ya bersedia tidak menerima bantuan (PKH, red). Mendapat bantuan PKH sejak tahun 2011, jumlahnya Rp500 ribu setiap tiga bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima oleh reporter mataairradio.com, banyaknya data penerima PKH yang salah sasaran menyebabkan gejolak di kalangan masyarakat, sehingga saat ini Satuan Petugas Khusus (Satgasus) Polri yang bekerjasama dengan dinas terkait, sudah mulai bergerak ke desa-desa untuk ikut mendata KPM yang tidak tepat sasaran.

Melalui campur tangan Satgasus diharapkan tidak muncul lagi informasi bahwa ada keluarga yang secara ekonomi mampu, namun mendapatkan PKH sedangkan, warga yang tidak mampu secara ekonomi tidak dapat bantuan apapun dari pemerintah.

 

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Mukhammad Fadlil

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan