Dokar di Rembang Mendekati Punah, Sentuhan Wisata Diimpikan

Sabtu, 26 Juli 2014 | 15:38 WIB
Sebuah dokar melintas di kawasan alun-alun kota Rembang beberapa waktu yang lalu. (Foto:Rif)

Sebuah dokar melintas di kawasan alun-alun kota Rembang beberapa waktu yang lalu. (Foto:Rif)

REMBANG, MataAirRadio.net – Populasi dokar atau kereta roda dua yang ditarik oleh seekor kuda di Kabupaten Rembang ditengarai mengarah pada kepunahan. Jumlahnya makin tergerus oleh moda transportasi modern. Namun para kusir dokar memimpikan, Rembang bisa menyerupai Yogyakarta dalam hal pariwisata.

Yasmin, seorang kusir dokar dari Dusun Setro Desa Sendangagung Kecamatan Kaliori mengatakan, Pemerintah Kabupaten Rembang mestinya memberi ruang untuk dokar, kendati alat transportasi ini terbilang produk “jadul” alias zaman dulu. Dokar bisa menjadi penopang pariwisata seperti di Yogyakarta.

Menurutnya, Rembang memiliki potensi pariwisata yang bisa diakses dengan dokar, misalnya Museum Kartini dan plesiran keliling pesisir pantai. Bisa saja, Pemkab mengarahkannya setiap satu minggu sekali. Jika sentuhan ini tidak dilakukan, maka dokar akan benar-benar punah.

Madiyono, warga lainnya mengaku memutuskan “pensiun” sebagai kusir dokar karena persaingan dalam hal sarana transportasi, cukup ketat. Meski ada yang menjadi kusir kereta kuda karena hobi, namun mayoritas menekuni pekerjaan ini karena pemenuhan kebutuhan hidup.

Dia menjelaskan, pendapatan dari dokar tidak sebanding dengan ongkos membeli pakan berupa dedak dan daun kacang tanah. Jika pun mendapat Rp50 ribu per hari, namun bersihnya tinggal Rp20.000-Rp25.000 saja. Kini, ternak kudanya dijual. Sebab apabila untuk ternak, daerah Rembang kurang cocok.

Sebagaimana Yasmin, Madiyono akan sangat mendukung, jika Pemerintah mampu menggerakkan sektor pariwisata yang menggairahkan kembali dokar. Ia pun mendambakan dokar lestari dan tidak punah begitu saja. Apalagi, di masa kini, sesuatu yang klasik dan etnik, cukup diminati.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Rembang Sunarto menyatakan memiliki konsep memberdayakan dokar melalui sentuhan sektor pariwisata. Pihaknya kini mengklaim sedang menggarap desa wisata batik yang nantinya memanfaatkan dokar untuk menyusuri kampung.

Hanya saja, garapan wisata menyangkut dokar, baru akan bisa dilakukan di wilayah Kecamatan Lasem, dengan dukungan Kompleks Pecinan dan Pusaka Sejarah. Sementara untuk di Kota Rembang, Sunarto mengaku belum menemukan konsep yang tepat mengingat mudahnya jangkauan objek wisata di Pusat Kota. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan