Diskriminasi ODHA masih Datang dari Petugas Kesehatan

Selasa, 1 Desember 2015 | 16:34 WIB
Ilustrasi. (Foto: dinkes.rembangkab.go.id)

Ilustrasi. (Foto: dinkes.rembangkab.go.id)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pegiat HIV/AIDS asal Pati yang masih mendampingi 172 ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS di Rembang Ari Subekti menguak masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

Bahkan diskriminasi itu disebut masih datang dari petugas kesehatan.

Dihubungi reporter mataairradio, Selasa (1/12/2015) pagi, Ari menyebutkan, diskriminasi dari petugas kesehatan itu bentuknya dengan melempar-lempar pelayanan ketika ODHA hendak mengakses obat antiretroviral (ARV) di rumah sakit daerah.

“Mestinya, mereka bisa langsung dilayani. Tidak malah di-“ping-pong” kesana kemari,” ujarnya.

Selain diskriminasi dari petugas kesehatan, stigma dan diskriminasi disebutnya masih datang dari sebagian masyarakat. Beberapa ODHA ada yang sampai ditolak oleh masyarakat tempat tinggalnya.

“Di peringatan Hari AIDS se-Dunia 1 Desember ini, kami menyeru untuk stop diskriminasi terhadap ODHA,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengonfirmasi masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di daerah ini.

“Namun stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS tidak dibenarkan oleh Negara,” katanya.

Ia pun mensinyalir, tidak hanya masyarakat awam yang memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, tapi sebagian tenaga kesehatan juga masih memiliki perlakuan yang hampir sama.

“Namun kami bertugas untuk menurunkan stigma dan menghapus diskriminasi terhadap ODHA,” tandasnya.

Tentang adanya diskriminasi terhadap ODHA oleh petugas kesehatan di rumah sakit daerah Rembang, pihaknya berharap agar berkomunikasi saja langsung dengan manajemen RSUD.

“Yang jelas, ODHA pun punya hak untuk hidup sebagaimana masyararakat pada umumnya,” pungkasnya.

Juru bicara rumah sakit daerah Rembang Giri Saputro belum bisa dimintai penjelasan mengenai dugaan adanya diskriminasi terhadap ODHA yang akan mengakses obat antiretroviral di Klinik CST atau Care, Support, and Treatment.

Di Rembang, dari 252 pengidap HIV/AIDS, proporsinya masih didominasi oleh ibu rumah tangga hingga 33 persen, disusul oleh sopir atau pelaut 20,5 persen, karyawan atau pekerja swasta 18,2 persen, kelompok buruh atau petani 14 persen, pekerja seksual 10 persen, dan anak-anak 3,75 persen.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan