Dinsosnakertrans Anggap Kontraktor Pelaksana Pabrik Semen Lalai

Selasa, 1 September 2015 | 19:49 WIB
Salah seorang korban yang kemudian meninggal dunia akibat tertimbun cor di lokasi proyek pabrik semen milik PT SI di Kadiwono, Bulu, Rembang. (Foto: mataairradio.com)

Salah seorang korban yang kemudian meninggal dunia akibat tertimbun cor di lokasi proyek pabrik semen milik PT SI di Kadiwono, Bulu, Rembang. (Foto: mataairradio.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Pihak Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Rembang menganggap kontraktor pelaksana dari pembangunan klinker semen milik PT Semen Indonesia, lalai, sehingga terjadi insiden runtuhnya konstruksi beton yang mengakibatkan satu pekerja tewas.

Menurut Kepala Bidang Hubungan, Pembinaan, dan Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Rembang Abdul Malik, kelalaian itu berupa kurang teliti dalam bekerja. Memang pekerja sudah profesional. Tetapi faktor cuaca panas yang bisa saja membuat besi lembek, mesti diperhitungkan.

“Tadi kita sudah ingatkan (kepada PT SI dan kontraktor) agar lebih teliti dalam bekerja. Kalau sampai terjadi kecelakaan kerja, perusahaan mesti tanggung jawab sesuai peraturan perundangan,” kata Malik.

Selasa (1/9/2015) pagi, Kepala Dinsosnakertrans Waluyo menggelar pertemuan tertutup selama 1,5 jam sejak pukul 09.30 WIB dengan perwakilan PT Semen Indonesia, perwakilan PT Swadaya Graha selaku kontraktor pelaksana, SPSI Rembang, serta para kepala bidang di Dinsosnakertrans.

Dari pertemuan itu, menurut Malik, terungkap bahwa pihak PT Swadaya Graha telah memberikan santunan kepada satu korban meninggal dan dua korban luka-luka. Bagi keluarga korban meninggal dikasih santunan total Rp15 juta. Jumlah itu belum termasuk klaim dari kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.

“Pembayaran klaim dari BPJS Ketenagakerjaan masih belum karena baru dihitung,” ujarnya.

Abdul Malik menambahkan, Kepala Dinsosnakertrans Waluyo meminta kepada para kontraktor pelaksana di proyek pabrik semen agar melaporkan para tenaga kerjanya, termasuk jumlah yang dipekerjakan.

“Kalau jumlah total pekerja di proyek itu, belum dilaporkan kepada kami,” katanya.

Kepala dinas juga meminta kepada perusahaan yang terkait, agar memastikan fungsi dari gugus tugas pemantau keselamatan kerja karyawan.

“Jangan sampai gugus tugasnya sudah ada dan pekerjanya diawasi, tetapi secara konstruksi dan peralatan, tidak dipantau secara cermat,” pungkasnya.

 
Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan