Dinkes Klaim Rembang Bebas Difteri Sejak 2007

Senin, 18 Desember 2017 | 19:11 WIB

Ilustrasi. (Foto dikutip dari laman tribunnews.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang mengklaim bahwa sejak Januari hingga Desember 2017 tidak ada warga di daerah ini yang terkena penyakit difteri.

Bahkan, penyakit yang ditularkan melalui virus dan menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan ini, diklaim tidak lagi menjangkit di Kabupaten Rembang sejak tahun 2007 silam.

“Tahun ini tidak ada kasus difteri di Rembang. Terakhir ada, itu antara 2006 atau 2007,” katanya kepada mataairradio, Senin (18/12/2017).

Meski demikian, Kepala Seksi Surveilans, Pencegahan, dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Supriyo menyatakan tetap berupaya menanggulangi penyakit ini, dengan berbagai langkah.

“Yang perlu dikuatkan ya sosialisasi tentang difteri dan imunisasi bagi anak bawah tiga tahun dan anak sekolah,” katanya.

Supriyo menyatakan, saat ini pihaknya membutuhan peran dari media massa agar masyarakat waspada difteri sejak dini, terutama jika anak mengalami sakit tenggorokan, sulit menelan, dan demam.

“Kami butuh peran media untuk sosialisasi kepada masyarakat. Seperti Bu Menteri Kesehatan yang banyak sosialisasi di televisi,” katanya.

Difteri juga ditandai dengan menurunnya nafsu makan, sesak nafas disertai bunyi, leher membengkak akibat dari pembengkakakan kelenjar leher, dan munculnya selaput putih keabu-abuan yang tidak mudah lepas.

Pihaknya sudah berkirim surat berisi waspada dini difteri kepada setiap Puskesmas dan rumah sakit baik negeri maupun swasta di Kabupaten Rembang.

“Anak-anak di bawah tiga tahun agar imunisasi sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh petugas kesehatan,” tandasnya.

Seperti diberitakan, penyakit difteri ditetapkan sebagai kejadian luar biasa tahun 2017. Difteri mewabah di 20 provinsi di Indonesia, termasuk di antaranya di Jawa Tengah.

Di provinsi ini, sudah dua orang anak meninggal akibat difteri. Satu dari Kota Semarang, satunya lagi dari Karanganyar.

Penyebabnya, ada yang menolak imunisasi dan ada yang diimunisasi tetapi tidak lengkap.

 

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan