Dilarang, WPA Berharap Akses Identitas Pengidap HIV

Minggu, 27 September 2015 | 17:15 WIB
Salah seorang perempuan pemilik warung kopi mengikuti tes cepat HIV secara sukarela di sela mengikuti sosialisasi tentang HIV/AIDS di Terraskota, Selasa (22/9/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Salah seorang perempuan pemilik warung kopi mengikuti tes cepat HIV secara sukarela di sela mengikuti sosialisasi tentang HIV/AIDS di Terraskota, Selasa (22/9/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Warga Peduli Aids (WPA) di wilayah Kecamatan Lasem berharap kepada Pemerintah Kabupaten Rembang agar didukung akses identitas para pengidap HIV atau penderita AIDS di daerah setempat.

“Jangan dirahasiakan siapa yang kena (HIV/AIDS) dari WPA. Dengan diberi tahu, kami akan bisa mendekati dan bertindak agar mereka tak disisihkan serta dikucilkan,” ungkap Sunaryo, WPA dari Desa Bonang Kecamatan Lasem kepada mataairradio.com, Minggu (27/9/2015).

Harapannya itu menyusul temuan 11 pengidap HIV dari beberapa warung kopi di wilayah Lasem, belum lama ini, serta temuan serupa terhadap pria yang diyakini adalah pengelola warung kopi melalui rapid test HIV/AIDS, 22 September lalu.

“Selain membuat kami tidak bisa melangkah untuk memberikan bantuan kepada mereka yang hidup dengan HIV/AIDS, keterbatasan dalam mendapat data identitas penderita, juga membuat kami tidak bisa mengontrol secara optimal pengananan oleh Pemerintah,” terangnya.

Menurutnya, angka kematian ODHA di Rembang cukup tinggi. Dari 241 penderita yang tercatat sampai dengan September 2015, sudah 120 di antaranya, yang meninggal dunia.

“Kalau tidak tahu datanya, dari mana kami bisa mendapat jaminan kalau Pemerintah telah memberi konseling kepada mereka yang terjangkiti HIV,” tandas Sunaryo.

Dia mengaku memahami, bahwa data identitas penderita AIDS tidak bisa diakses sembarangan karena dirahasikan demi kepentingan etik dan perlindungan hak asasi manusia.

“Kami tahu soal aturan itu. Tetapi peran WPA kan jadi tidak optimal kalau tidak diberi tahu sama sekali. Semoga saja, dinas kesehatan akan selalu serius dan sungguh-sungguh apabila punya program terkait pengendalian HIV/AIDS,” imbuhnya.

Sunaryo juga meminta kepada Pemkab agar menggiatkan sosialisasi kepada mereka yang bekerja di sektor rawan penyebaran HIV/AIDS seperti di warung kopi.

“Tidak semua warung kopi ada praktek prostitusi terselubung. Hanya beberapa dan itu sedikit. 1 atau 2 saja. Tetapi tetap saja harus diantisipasi,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Rembang Ali Syofii menegaskan, identitas pengidap HIV atau penderita AIDS memang dirahasiakan karena terkait masalah etika dan HAM.

“Pendampingan terhadap mereka yang positif terkena HIV, kami lakukan intensif mulai dari akses obat hingga konseling-konseling. Kami juga fokus pada pencegahannya,” tandasnya.

Dia menyebutkan, sebetulnya populasi tertinggi yang terkena HIV/AIDS adalah para pekerja, termasuk buruh, petani, dan nelayan. Setelah itu baru disusul oleh kalangan ibu rumah tangga.

“Warung kopi beresiko titik penyebaran HIV/AIDS. Tetapi jumlahnya mengikuti populasinya yang kecil. Sosialisasi terhadap mereka terus kami lakukan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan