Dihadiri Megawati, Ganjar Resmikan Patung Bung Karno di Tawang

Kamis, 30 September 2021 | 14:32 WIB

Peresmian patung Bung Karno di polder Stasiun Tawang, Semarang, pada Rabu (29/9/2021) sore, dilakukan secara daring. Dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat, seperti Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarno Putri dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Foto: mataairradio.com)

 

SEMARANG, mataairradio.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meresmikan patung Ir Soekarno (Bung Karno) di polder Stasiun Tawang Semarang, pada Rabu (29/9/2021) sore.

Ganjar menerangkan, patung itu menjadi simbol semangat anak muda untuk berpikir ideologis dan kebangsaan. Juga sebagai penanda bagaimana sejarah perkeretaapian Indonesia.

Selain itu, keberadaan patung Soekarno juga memberikan satu nilai estetika bersejarah dengan lanskap Stasiun Tawang dan Kota Lama Semarang.

“Patung ini kita harapkan menjadi semangat anak muda untuk berpikir ideologi, berpikir kebangsaan, dan bagaimana seorang pemimpin yang mau merasakan penderitaan rakyatnya, untuk itu tokoh Soekarno sangat luar biasa,” kata Ganjar.

Ia menceritakan, bagaimana perjalan Soekarno muda sampai menjadi presiden, penuh dengan tantangan, serta bagaimana peran tokoh-tokoh bangsa saat itu yang bersama-sama membidani lahirnya Republik Indonesia.

“Diceritakan juga hal yang kecil kenapa Bung Karno memanggil pemuda kita ‘Bung’. Itu memberikan satu semangat yang bagus dan gelora bagi anak muda. Ini yang membuat anak muda musti paham,” terangnya.

Acara yang digelar secara daring itu, juga dihadiri oleh Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri sebagai perwakilan keluarga Bung Karno, untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Megawati Soekarnoputri menceritakan sejarah awal kemerdekaan, tepatnya pada Juni 1946. Waktu itu pemerintahan Republik Indonesia harus dipindah ke Yogyakarta.

Jawatan kereta api yang dulunya dinamai TNKA atau PJKA tersebut menyediakan dua kereta sekaligus untuk membawa pemerintahan dari Jakarta menuju ke Yogyakarta. Megawati juga mengutip pidato Bung Karno yang berupa pantun.

“Ada satu pidato khusus dari Bung Karno tentang revolusi dan kereta api. Bunyinya ‘Siapa bilang saya dari Tegal, saya dari Majalengka. Siapa bilang revolusi kita gagal sebab kita punya TNKA (PJKA),” kata Megawati.

 

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Mukhammad Fadlil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan