Dewan Pendidikan Soroti Video Murid Menantang Guru yang Viral

Senin, 11 Februari 2019 | 22:17 WIB

Tangkapan layar video murid menantang gurunya yang viral di media sosial. (Foto: mataairradio.com)

 

 

REMBANG, mataairradio.com – Dewan Pendidikan Kabupaten Rembang menyayangkan beredarnya video murid menantang guru di salah satu sekolahan di Kabupaten Gresik yang viral di media sosial.

Dalam video tersebut terlihat seorang siswa yang tiba-tiba saja memegang kepala gurunya. Sambil memegang kepala guru, dia juga mendorongnya ke belakang. Kemudian siswa bertopi tersebut berdiri di depan gurunya.

Adegan selanjutnya adalah siswa bertopi tersebut memegang kerah sang guru. Siswa kemudian bertingkah seperti hendak memukul gurunya berkali-kali dengan tangan.

Setelah puas ‘mengerjai’ gurunya, siswa itu kembali ke tempat duduknya. Dengan santainya dia duduk di atas meja. Sedetik kemudian dia menyelipkan sebatang rokok di mulutnya. Satu hisapan disertai kepulan asap keluar dari mulut si siswa.

Sururi Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Rembang berharap kejadian tersebut tidak terjadi di Rembang, apalagi sampai viral dan menjadi totonan yang tidak baik.

Dirinya menggarisbawahi bahwa keteladanan guru merupakan hal yang paling penting, disisi lain kepekaan para pendidik terhadap murid serta pengawasan menjadi hal yang paling utama.

“Yang utama adalah keteladanan Mas,” ungkapnya.

Pria asal Sale ini menambahkan bahwa pendidikan moral anak perlu ditingkatkan dengan menambahkan jumlah jam pada matapelajaran agama. Karena dengan pengetahuan agama yang cukup maka anak didik pasti menghormati guru.

Sebagai guru, dirinya juga paham bahwa pendekatan yang dilakukan guru terhadap murid berbeda pada waktu dulu dan sekarang. Saat ini anak cenderung lebih terbuka dan dianggap sebagai teman walaupun dalam batas-batas tertentu.

“Kalau dulu anak cenderung patuh, tapi sekarang harus berbeda dalam mendidik mereka,” tegasnya.

Adib Ulinnuha anggota dewan pendidikan Kabupaten Rembang menambahkan bahwa pihaknya akan memperjuangkan peraturan daerah (Perda) tentang kewajiban siswa untuk ikut dalam madrasah diniyah (sekolah agama).

Jika sekolahan sudah terintegrasi dengan Madin maka bisa dilanjutkan, namun jika tidak siswa diharuskan untuk mengikuti Madin di tempat lain. Dirinya mencontohkan bahwa kebijakan ini sudah dilakukan di beberapa daerah seperti Kabupaten Pasuruhan.

Pihaknya juga sudah pernah melakukan studi banding ke Pasuruhan dan hasilnya di sana memang integrasi antara sekolahan dengan Madin sudah berjalan sebagai salah satu solusi memperkuat pendidikan karakter.

“Salah satu solusi ya mengintegrasikan antara sekolahan dan Madin Mas,”pungkasnya.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan